Rona Mentari

tell a story, reap a wisdom

Showing posts with label motivasi. Show all posts
Showing posts with label motivasi. Show all posts

27 Negara, 155 Hari


Bismillahhirrahmannirrahim

Hi readers! 
Setuju nggak, bertemu dengan orang-orang keren itu sangat menyenangkan! Kita bisa belajar banyak dari mereka dan terinspirasi dari apa yang mereka lakukan. Kalau sudah begitu, kita jadi semangat melakukan hal keren pula. Pun begitu dengan saya.

Perjalanan saya, kakak, dan teman ke Kuala Lumpur mempertemukan kami dengan sebuah keluarga keren! Apa kerennya?

Begini ceritanya, saat kami mendatangi sebuah pasar rakyat di Perak, Kuala Lumpur, di ujung kawasan ada sebuah stand dengan mobil van putihnya. Di sekeliling van putih tersebut terdapat foto-foto dan stiker bendera-bendera dari berbagai belahan dunia. Penasaran, kami pun mendekatinya. Semakin dekat ternyata semakin keren! Ada sebuah video ditampilkan melalui proyektor yang diarahkan ke badan van. Sebuah video perjalanan sepertinya. Ada juga souvenir-souvenir seperti t-shirt, magnet kulkas, dan cinderamata dari berbagai belahan dunia yang mereka jual. Saya bertanya pada salah satu diantara mereka yang kemudian saya tahu adalah anak perempuan tertua dari keluarga ini.


Mereka adalah keluarga asli Malaysia dan tinggal di UK. Bersama van putih yang sudah dimodifikasi seperti rumah sendiri itu, mereka melakukan perjalanan selama 155 hari ke 27 negara! Wow!



Belum lagi yang membuat saya kagum adalah, keluarga ini terlihat seperti sebuah keluarga muslim yang taat, semua anak perempuannya berjilbab, bahkan ibunya bercadar!


Dalam perjalanan tersebut mereka tidak menggunakan sopir tambahan. Hanya Sang Ayah dan Ibu yang menyetir bergantian. Saya sempat berbincang dengan Ibunya, ia banyak mendapat pengalaman dari perjalanan luar biasa ini. Ia mengatakan banyak hal kepada kami, bahwa sebagai seorang muslim berjilbab, bukan berarti kita tidak bisa melakukan banyak hal, karena jilbab bukanlah halangan kita untuk beraktifitas. I noted that Mom! J

Menyatukan keluarga dengan satu visi yang sama menurut saya juga hal yang patut diapresiasi. Apalagi saat saya berbincang dengan anak perempuan tertua, mereka sengaja melakukan home schooling dan berkomunikasi dengan guru via email selama perjalanan. Keren sekali!



Ingin punya mobil semacam ini juga nanti. Ingin melakukan perjalanan semacam ini juga, nanti. :) Amin!

Bawang Kopong


Tentu kita pernah mengalami masa kanak-kanak. Setidaknya bagi saya yang sudah tidak anak-anak lagi. Dulu, saya sering bermain bersama kakak dan teman-temannya. Senang sekali bermain dengan yang lebih tua, rasanya kita juga sudah lebih dewasa. Berkali-kali bermain petak umpet-bersama yang lebih tua, saya sering disebut dengan ‘bawang kopong’.

“Udah, Rona bawang kopong aja..,” kata anak-anak yang lebih dewasa.



Saya tentu tidak keberatan. Bagaimana tidak? Saya masih bisa bermain bersama anak-anak yang lebih dewasa, dan tak perlu takut untuk kalah dalam permainan, karena saya adalah bawang kopong!

Pernah dengar istilah bawang kopong? Bagi yang belum tahu, ini adalah istilah dalam permainan saat saya masih kanak-kanak. Dimana ketika seseorang diberi label ‘bawang kopong’, itu berarti ia tetap diperbolehkan bermain tapi peraturan tidak akan berlaku untuknya. Jadi sebenarnya ia ada, namun tak ada. Dalam permainan ini sebenarnya bawang kopong itu adalah sosok yang tidak dianggap. Tidak akan dapat hukuman bila kalah (walau biasanya memang selalu kalah karena dianggap lemah) dan kalau menang pun tidak dianggap (ini jarang sekali terjadi). Intinya, secara fisik ada, tapi tak berpengaruh.

Saat masih kanak-kanak, tentu menjadi ‘bawang kopong’ seru saja. Sampai akhirnya saya menyadari satu hal saat ngobrol santai dengan kakak.

Apa itu?

Ngeri juga ya kalau di usia sekarang kita menjadi bawang kopong. Ada secara fisik, tapi tiada. Tidak ada pengaruhnya ada kita atau tidak di sebuah lingkungan. Tak ada yang merasakan kehadiran kita. Lebih dari itu, tidak ada yang merasakan manfaat dari adanya kita.

Seperti bawang kopong, ada tapi tiada.

Rona Mentari
00.54


"Jangan Salahkan Lupa"

Bismillahhirrahmannirrahim..

Ini bukan yang pertama kali, tapi kuharap yang terakhir. Ya, kemarin Allah mengingatkanku dengan caraNya yang lembut. Menyadarkan akan kekekalan yang sejatinya hanya milik Allah semata.

Ikat unta mu dengan kuat, lalu melengganglah meninggalkannya. Jangan engkau sebut ‘nanti dulu’, ‘nanti saja’, atau ‘ah tidak apa-apa’ sebelum segala daya engkau tunaikan untuk mengikatkan kuat unta mu. Karena kita baru merasa, setelah tiada. Merasa setelah tiada.

“Orang kecil itu selalu membuat masalah kecil jadi besar, sedangkan orang besar itu biasa menghadapi masalah-masalah besar”, kata seorang Bapak kepada anak-anaknya. Kuingat terus itu saat rintang menghadang. Tenang.

Aku jadi ingat, saat masih di bangku SMA, aku adalah si anak berkalung note kecil. Sadar betul akan penyakit lupa. Kubeli buku kecil. Kuberi nama “Commitment Book”. Isinya berbagai janji, tugas, dan berbagai have-to-do-list. Terbukti efektif memang. Tanda centang di sisi kanan menjadi sebuah kelegaan karena itu berarti aku telah menyelesaikannya. Mungkin juga, ini cara yang tepat untuk melatih ingatan kita. Padahal kalo diingat, betapa anehnya berkalung buku kecil kemana-mana. Tapi dasarnya saat itu saya cuek, jadi santai saja berjalan nyengir kemana-mana dengan kalung notes bak penyanyi hiphop.

Ah itu dulu.

Akhir-akhir ini, saat sudah tak lagi di bangku SMA. Bahkan hampir melewati masa kuliah, berbagai deadline project memang menggurita. Aku masih memiliki ‘”commitment book” itu. Tapi belakangan kuabaikan. Tak kutengok sedikitpun. Sempat kutulis beberapa komitmen. Tapi itu pun terlewatkan begitu saja tanpa centang di sisi kanan. Kekuatannya jadi memudar. Aku tak lagi komit dengan si buku komitmen. Terlupakan.

Tapi tunggu, ini bukan tentang lupa. Jangan salahkan lupa jika kita tak berusaha mengingat. Jangan salahkan lupa jika kita saja tak benar-benar menginginkannya. Jangan salahkan lupa. Lupa adalah perpanjangan tangan dari ketidak pedulian dan ketidak berpihakan.

Sampai kemudian, “Kayak gini kok berkali-kali, kalau ngurusin hal remeh temeh aja kamu seperti ini, gimana mau ngurusin hal-hal besar?”, kata Papa kepada saya lewat telfon.

Setelah itu saya diam beberapa detik.

Benar kata Papa. Kata-katanya menyadarkan saya akan pentingnya mementingkan hal remeh temeh untuk kemudian mempertahankan kepentingan-kepentingan besar untuk orang banyak. Terimakasih Pa untuk nasihatnya.

Sudah. Sedih, sudah. Sebel, sudah. Marah, sudah. Sekarang waktunya bebenah. Merapikan puzzle yang sempat berantakan. Menata kembali janji-janji. Seperti ketapel. Dibutuhkan tarikan ke belakang untuk bisa meluncurkan peluru dengan kencang. Tepat sasaran. *emot senyum nyengir*


Ah, maaf jika aku terlalu banyak nyampah di waktumu. Terimakasih sudah membaca catatan kecil ini. Hey lihat, Allah masih menyiapkan udara segar untuk pagi kita, mencukupkan makanan untuk hari hari kita, memberikan pandangan yang sempurna, raga yang sehat, dan berbagai nikmat tak terhingga. Bergegas! :)*emot senyum*

Dua Kata Favorit


Akhir-akhir ini saya lagi seneng banget sama dua kata. Dua kata yang menjadi jawaban atas pertanyaan di benak saya. Dua kata yang menjadi jalan keluar dari berbagai benang kusut di kepala saya. Dua kata yang kemudian selalu saya sebut-sebut di tiap doa. Dua kata yang ketika saya mengingatnya, maka senyum tersungging dari wajah saya.

Suatu hari seseorang mengeluh karena udara panas hari ini. “Ah panas!”.

Seseorang lainnya berkata, kau tahu? Sinar matahari yang sampai ke kulit kita sudah melalui saringan dari berbagai lapisan langit. Sudah di filter agar sinar matahari itu mampu menyentuh kulit kita. Coba kalau sinar matahari menyentuh kulit kita tanpa filter? Bisa terbakar seketika kulit kita ini.

Cerita diatas tadi cuma bagian sederhana dan kecil dari kehidupan. Masih banyak hal-hal yang mungkin bikin kita nggak bisa dengan mudah menerima berbagai kondisi yang ada.

Eh, balik lagi ke dua kata favorit saya. Mau tahu apa? Boleh disebarin kok ke yang lain. Adalah..


Menyenangi takdir! :D

Bangga Dengan Alquran


Bismillahhirrahmannirrahim..

Kali ini Rona mau share tulisan artikel yang diterbitkan Koran Minggu Pagi Yogyakarta untuk kolom "Inspirasi Ramadhan". Beda dari tulisan Rona di blog biasanya, ini agak formal, maklum untuk konsumsi media cetak. Tapi semoga easy to understand :) Enjoy!

Ramadhan telah memasuki sepuluh hari terakhirnya. Rosulullah mencontohkan kepada kita untuk semakin meningkatkan kualitas ibadah. Salah satunya ditunjukkan dengan aktivitas kita bersama Alquran. Kini, seringkali kita malu dengan identitas kita sebagai muslim. Malu memperlihatkan ritual agama kita. Bahkan malu membaca Alquran di tempat umum. Alhasil waktu yang kita habiskan bersama Alquran menjadi minim. Kini saatnya pada bulan Ramadan, bulan yang penuh rahmat dan berkah ini, merupakan momen penting untuk kembali kepada Alquran, buku petunjuk kehidupan kita.

Allah berfirman dalam Quran Surat Al-Qamar ayat 17 yang artinya “Dan sungguh, telah Kami mudahkan Alquran untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?” Ayat ini bahkan diulang empat kali dalam surat yang sama pada ayat 22, 32, dan 40. Rosulullah juga bersabda “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari al quran dan mengajarkannya” (HR Bukhori).


Alquran ibarat buku petunjuk hidup kita. Mempelajarinya berarti mencari tahu petunjuk dari Allah SWT. Membacanya berarti kita sedang berusaha memahami pesan cinta dariNya. Lalu bagaimana cara memahami Alquran? Satu hal yang paling mudah yang bisa kita lakukan adalah dengan membaca artinya. Selain akan menambah pemahaman kita tentang isi Alquran, membaca arti dalam bahasa Indonesia juga bermanfaat bagi diri kita. Dalam dunia kedokteran, proses ini dikenal dengan istilah Recticular Activating System, sebuah jalan menuju bagian otak untuk meningkatkan daya fokus dan konsentrasi. Masyaallah. Tapi apa kita masih punya waktu untuk menyibukkan diri kita dengan Alquran?

Sebuah kisah menyebutkan, seorang Ustadz dari Indonesia dan Syekh dari Timur tengah sedang berada diatas pesawat saat jam menunjukkan waktu sholat. Setelah berwudhu, Syekh meminta sang Ustadz untuk segera mengumandangkan adzan. Dimulailah sholat berjamaah diatas pesawat dengan Syekh sebagai imamnya. Sang Syekh melantunkan surat yang ia baca dengan lantang. Tidak sedikit orang di sekitar yang memandang mereka heran. Pesawat ini memang menuju ke negara yang bukan mayoritas muslim. Setelah salam, Ustadz bertanya kepada Syekh, “Syekh, apa anda tidak canggung dengan lantang membaca ayat Quran diatas pesawat ini? Dari tadi banyak yang menatap ke arah kita”. Syekh menjawab “Kenapa kita harus canggung mendengarkan ayat Quran pada mereka? Sementara mereka dan banyak orang diluar sana yang tidak canggung memperdengarkan kemaksiatan kepada kita”.

Pembaca yang dirahmati Allah, kisah nyata tadi agaknya cukup menyentil diri kita. Allah berfirman dalam Surat Fussilat ayat 26 yang artinya, “Dan orang-orang yang kafir berkata, ‘janganlah kamu mendengarkan (bacaan) Alquran ini dan buatlah kegaduhan terhadapnya, agar kamu dapat mengalahkan (mereka)”. Dalam surat ini dijelaskan bahwa sengaja dibuat ‘kegaduhan’ dalam arti luas untuk menjauhkan kita dari Alquran. Kita disibukkan oleh perkara-perkara duniawi agar diri kita jauh dari Alquran.

Pembaca yang dirahmati Allah, mari kita bersama jadikan Ramadhan ini momentum untuk kembali pada Alquran. Tunjukkan bahwa kita bangga menenteng Alquran. Dan sibukkan diri kita dengan membaca serta mempelajari Alquran.

(Rona Mentari untuk kolom Inspirasi Ramadhan Koran Minggu Pagi)

Eksistensi

Bismillahhirrahmannirrahim..

Berbicara mengenai eksistensi seperti tak akan habis dibahas. Siapa sekarang yang ga butuh eksistensi? Mulai dari anak kecil didepan orang tuanya. Caleg yang memperjuangkan dirinya untuk dipilih rakyat. Mahasiswa yang katanya aktivis. Seorang pria di depan perempuan yang dia cinta. Karyawan didepan bos nya. Sampai tukang bakso keliling yang selalu lewat depan rumah. Semuanya butuh eksistensi.


Bagaimana wujudnya? Nah ini nih yang macem-macem. Eksistensi kini bentuknya beragam. Apalagi dengan perkembangan teknologi informasi. Makin memperkaya khazanah ragam cara untuk eksis. Hahaha.

Well, sebelumnya saya mau cerita nih. Suatu saat, saya sedang di dalam perjalanan pulang ke rumah. Saya bertemu dengan segerombolan pengendara motor. Mereka berjalan beriringan dengan menggunakan baju yang sama. Semuanya dominan hitam. Rata-rata dari mereka adalah kaum Adam. Setelah saya perhatikan atribut dan kaos mereka, saya bisa menyimpulkan bahwa mereka adalah suporter sepak bola. Baru pulang dari mendukung tim favorit mereka tanding ceritanya. Nah, saat berhenti di lampu merah ada beberapa dari mereka yang sengaja membunyikan motor mereka dengan keras. Nge-gas-in motor mereka sampe asap melambung kemana-mana. Udah kayak jaman kampanye pas partai kita masih tiga. Dan mereka merasa bangga. La ini menurut saya adalah bagian dari keinginan untuk eksis itu. Sang pengendara motor menunjukkan eksistensinya dengan nge gas-gas in motornya. Biar orang-orang disekitarnya liat. Iya sih, saya akhirnya melihat, tapi jelas bikin polusi. Polusi suara. Menurut saya, ini bentuk eksistensi yang nggak indah dan nggak menguntungkan sama sekali.

Kalo yang berhubungan sama teknologi informasi, macem-macem bentuknya. Temen-teman pasti udah tau sendiri lah ya. Dari bikin status FB, nge-tweet, path, instagram, BBM, WA, Line, sampe nulis blog seperti saya ini nih, itu semua adalah salah satu cara untuk bisa eksis. Tapi bukannya terus-terusan menceritakan semua yang kita lakukan. Dari bangun tidur sampe tidur lagi. Sayang waktu kita!


Loh jadi eksis itu pengen diliat ya? Ya bisa jadi begitu. Salah apa engga? Tergantung pengen diliatnya untuk apa. Nggak ada salahnya kok, asal tujuannya baik dan jangan sampe kita melupakan yang satu ini. Kita wajib banget eksis sama Dia. Wajib terus meningkatkan eksistensi kita didepan Dia. Siapa Dia? Pencipta kita, pembimbing jalan kita, tempat kita bergantung, Allah SWT. Sekarang mungkin banyak sekali dari kita yang ingin eksis biar ‘diliat’, tapi apa mungkin kita juga ingin eksis didepan Dia? Memang, eksis sama Allah itu nggak mengharuskan orang-orang tau. Seperti contoh kisah Andi. Saat itu Andi sedang berada di toilet umum. Saat berada di depan wastafel ia melihat wastafel yang kotor. Disana tak ada orang sama sekali. Kemudian secara spontan ia mengeluarkan sikat gigi yang ada di kantongnya dan membersihkan wastafel itu dengan sikatnya hingga bersih. Setelah itu ia keluar toilet dengan senyum tersungging dari wajahnya.

Kenapa Andi mau melakukan itu? Jawabannya adalah karena Andi yakin Allah akan memberi pahala saat melihat perbuatannya. Jadi Andi sedang caper alias cari perhatian di depan Allah! Boleh? Boleh pake banget! :D

Eksistensi kita sama Allah lah yang utama. Coba kalo eksis didepan manusia, nggak akan ada habisnya. Saya jadi ingat istilah Bunda Tatty Elmir, pahlawan di jalan sunyi. Nah pahlawan di jalan sunyi ini menurut saya adalah orang yang eksisnya luar biasa didepan Allah. Mereka tulus memberi manfaat pada orang-orang disekitarnya tanpa ingin diketahui orang banyak.

Ya, berbicara mengenai eksistensi seperti tak akan habis dibahas. Siapa sekarang yang ga butuh eksistensi? Utamanya, untuk kehidupan kekal nanti. Eksistensi kita di depan Yang Maha. 


*mostly dedicated to me and, you, the readers. :) 
**Ps: Ramadhan sudah didepan mata, pantasin diri dulu buat menyambut si dia (baca: Ramadhan)

Pengajian di Wellington


Bismillahirrahmannirrahim..

Mau cerita lagi nih. :) Kali ini tentang pengalaman mengisi pengajian di Wellington. Oh iya, FYI, ini adalah dua postingan terakhir tentang perjalanan Wellington. Check this out! :)

Sebelum berangkat ke Wellington, saya sudah di kontak oleh Pak Agam, anggota Umat Muslim Indonesia (UMI) di Wellington. Mereka meminta saya untuk mengisi pengajian di acara pengajian rutinnya UMI. Wow, with pleasure :). Islam memang menjadi bagian minoritas di New Zealand. Mengisi pengajian di negara minoritas muslim tentu bakal menarik. Dan alhamdulillah, Allah memberi kesempatan dakwah ini untuk saya.

Pengajian rutin hari itu ternyata bertepatan dengan perayaan peringatan Hari Ibu. Jadi masyarakat Indonesia disana tetap berusaha memperkenalkan ke-indonesia-an kepada anak-anak. Berangkat bersama Saras, Thalita, dan Bara kami dijemput Pak Agam untuk menuju ke tempat pengajian. Tepatnya di Otari Park, semacam kebun raya, yang ketika kita masuk didalamnya, seperti di dalam hutan. Sebelah kiri ada sungai dan di sebelah kanan pepohonan rimbun. Tempat yang sangat sejuk tapi tertata dengan baik. Di sudut tertentu sudah ada peta-peta dan tempat sampah. Banyak juga binatang liar seperti bebek dan rusa. Setelah berjalan bagai menyusuri hutan, sampailah kami ke sebuah halaman besar berhamparan rumput hijau dengan atap langit biru cerah. Terdapat beberapa spot barbeque dan satu spot beratap tempat berteduh. 

Anggota UMI sudah mulai berkumpul. Sambil menunggu anggota lain, saya dan teman-teman berkeliling. Anak-anak sedang asyik bermain di sungai. Dan wow! Airnya dingin luarbiasa. Karena ini tempat umum, beberapa kelompok masyarakat juga sedang memanfaatkannya. Beberapa spot barbeque dipakai.

Beberapa saat setelah cukup banyak yang berkumpul, acara pun dimulai. Santai saja lesehan. Diawali dengan pembacaan ayat suci Alquran oleh salah satu anggota UMI. Luar biasa bacaan Qurannya. Beliau adalah seorang anggota TNI AU yang dikirim untuk menempuh pendidikan di NZ.

Yang jadi pembawa acara hari itu adalah Pak Budi, seorang penggiat gamelan dan budaya jawa di NZ. Dan tiba giliran saya kedepan. Well, audiens hari itu beragam, dari orang tua hingga anak-anak. Saya memulainya dengan mengajak bersholawat bersama. Beberapa kisah saya sampaikan. Berinteraksi dengan anak-anak, sharing bersama. Di akhir thausiyah, dengan gitar kecil yang sengaja saya bawa dari Indonesia, kami bernyanyi bersama, Tombo Ati, untuk mengingatkan kami kembali tentang obat hati. Saat menyanyikan Tombo Ati dalam bahasa Indonesia, hanya sedikit yang mengikuti. Tapi uniknya, ketika saya menyanyikannya dalam bahasa jawa, justru UMI dengan kompak mengikuti. Terutama ibu-bapaknya. J hehehe










Belum selesai sampai disitu, acara di Otari Park dilanjutkan dengan aktivitas mencuci kaki ibu. Selain untuk memperingati hari ibu, aktivitas ini juga saya rasa sangat mampu untuk menumbuhkan rasa bakti pada orangtua kita, terutama ibu. (eits, untuk para bapak dan bapak wanna be, jangan iri ya, lagi hari ibu itu soalnya. hehe)

Aktivitas ini menurut saya sangat konkret! Patut ditiru. Dengan membawa ember dan gayung masing-masing dari rumah, ibu duduk berjejer di kursi. Lalu anak-anak mencuci kaki ibunya dengan air dan sabun yang ada di ember. Saya membayangkan bagaimana pandangan  masyarakat lain disana tentang Islam jika aktivitas pengajian rutin yang dilakukan seperti ini. UMI menjadi agent of muslim yang baik disana.

Kembali ke aktivitas tadi, sesekali Sang Ibu mengkibas-kibaskan kakinya. Maklum udara yang dingin dibasug air tentunya amat dingin ketika menyentuh kulit. Ada juga yang menyuapi ibu nya. Benar-benar hari ibu deh. 

Kegiatan itu dilanjutkan dengan makan bersama dan games keluarga yang tak kalah serunya. Dan kegiatan hari itu diakhiri dengan pemilihan anggota baru UMI. 

Bertemu dengan saudara satu rumpun dan satu iman di luar negeri memang luar biasa membahagiakan. Seperti bertemu dengan saudara sendiri. Kami sharing, berbagi cerita tentang kehidupan muslim disini. Dan, saya pun belajar banyak dari mereka. Terimakasih Pak Agam dan keluarga, Pak Gufron dan Tante Atin, Pak Budi dan Tante Wiwin, Mba Anik, dan semua UMI di Wellington. Semoga kita bisa bertemu lagi nanti. Dan lebih kekal tentunya, bertemu di Syurga-Nya, Allah. Amin, insyaallah.





Ke Wellington, New Zealand



Bismillahhirrahmannirrahim..
Air bus 330 milik maskapai penerbangan Qantas menjadi bagian dari hari bersejarah ini. Menuju Wellington, New Zealand untuk “Intercultural and Leadership Camp” disana. Kami transit dulu di Sydney untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Wellington dua jam setelah sampai di Sydney. 





Ya, alhamdulillah, Allah memberi kesempatan saya untuk mengunjungi New Zealand. Salah satu target saya di revolusi 20, dijawab Allah lewat program ini. Allahuakbar. 

 
Tepatnya di VUW (Victoria University of Wellington), sebagai penyelanggara program ini. Saya tidak sendiri, bersama delegasi Indonesia yang semuanya mahasiswa, kami belajar, berinteraksi, dan menambah pengalaman diri. Selama dua minggu, saya dan beberapa teman dari Universitas Paramadina menjadi bagian dari masyarakat VUW. Tinggal di asramanya yang waw, belajar di kampusnya dan mengeksplor kota indah itu, Wellington.

Banyak sekali kisah yang terukir dalam perjalanan itu. Dari pengalaman di VUW, bertemu dengan kiwi’s (sebutan untuk orang NZ) yang luar biasa ramah, jadi musisi jalanan, ngisi pengajian Umat Muslim Indonesia disana, main gamelan, ke Islamic Center, sampai dapat kesempatan mendongeng bareng pendongeng Wellington. Masyaallah.

Program ini dibiayai oleh VUW selama disana. Tapi biaya tiket yang tak murah dan asuransi ditanggung sendiri. Alhamdulillah, beberapa sponsor bersedia memberikan sebagian rezeki nya untuk membantu saya. Tentu, sponsor menjadi pendukung saya dalam mengikuti program ini setelah keluarga, terutama Papa.



Tanpa mengurangi rasa hormat, saya ingin berterimakasih kepada para dermawan. Ini saya lakukan bukan karena mereka yang meminta, tapi inisiasi saya pribadi. Setidaknya semoga, kita bisa belajar dari mereka.

Pertama kepada Bapak Soekeno, CEO Muncul Group, sebuah grup usaha di Jogja yang telah merintis karirnya sejak lama. Terimakasih Pak Keno.

Kedua kepada Hj. Dra. Pujanti, pimpinan PT. Bali Saudara Valas. Seorang muslim di Bali yang merintis usaha nya dari nol. Luar biasa sedekahnya. Dan tentu dukungannya untuk pendidikan.

Ketiga kepada Bapak dr. Gun Nugroho Samawi, dirut PT BP Kedaulatan Rakyat, sebuah perusahaan koran utama di Yogyakarta, yang membawahi beberapa koran di DIY.

Keempat kepada Bapak Herry Zudianto, mantan walikota Jogja yang kini menjadi Ketua PMI DIY. Terimakasih juga untuk waktunya berbincang dan memotivasi saya ya pak..

Kebaikan mereka tentu memotivasi saya untuk melanjutkan amanah serupa itu nantinya. Sekali lagi, terimakasih.










Pengalaman di Wellington, akan diceritakan di postingan blog selanjutnya. Insyaallah :)


Sajak Sebuah Nasihat



Aku kelu dalam kalimat akhirat
Seperti putri malu dalam sentuhan
Lemah aku sekali saja
Cermin cermin asa memantulkan lagi
Sebuah senyuman resah nan menarik

Pikul ini tak ringan
Letupan mata rasanya tak sirat
Tapi inilah tingkatannya
Saat melempar bumerang sendiri
Tapi
Aku tahu Allah tak salah pilih

Saat ijabah doa dijawab nyata
Malu didepan mereka
Adalah cambuk kapas yang indah
Yang sentuhannya mampu menyalakan tiap sendi
Menguatkan tiap iman
Membesarkan tiap hati
Mencederai tiap syetan
Dan
Membersihkan tiap yang kotor

Dalam toharoh ini, aku berjuang

#2011

Tahukah Kau



Tahukah kau tentang nyanyian langit
Tentang daun yang diterpa sang angin
Tentang lebah yang letih menebar sukma
Tentang tiap-tiap halaman bukumu
Tentang kisah sebuah apel merah

Tentang romansa dalam adegan opera
Tentang ratusan duri di tangkai mawar
Tentang  roda yang menggilas tanah
Tentang ilmu yang tak habis-habis disebar
Tentang pelangi yang tersenyum setelah hujan datang
Tentang mentari yang dimana-mana sinarnya

Kehidupan, ketahuilah darinya


#November-2012

Mereka Memang Luar Biasa


Bismillahhirrahmannirrahim,

Sahabat, ini adalah kisah pengalaman saya saat pertama kali diminta mendongeng didepan anak-anak siswa SLB. Sebuah pengalaman yang mengkayakan. :) 


Kendaraan kami memasuki pagar dan gerbang ber cat biru terang. Sekilas ada papan putih bertuliskan SLB, Sekolah Luar Biasa. Bersama kakak, hari ini, di bulan syawal, adalah jadwalku untuk menjadi juru dongeng. Tapi berbeda dari yang lain, untuk pertama kalinya, aku akan mendongeng didepan anak-anak murid SLB. Menarik sekaligus menegangkan. Ini adalah pengalaman pertama. Aku benar-benar penasaran berada di tengah-tengah mereka. Tapi aku juga takut tak bisa berkomunikasi dengan mereka. Tapi, Ms Neti, mantan guru SMA ku sekaligus yang menjadi perantara untuk mengundangku mengatakan, anak-anak disana sangat komunikatif dan senang kalau aku bisa hadir.

Setelah memasuki ruangan aula besar, aku melihat anak-anak luar biasa ini. Ternyata mereka sudah menunggu. Sesekali beberapa anak melambaikan tangannya padaku. Jumlah mereka tidak sedikit, dengan seragam sekolah yang berbeda-beda. Dari yang berseragam SD, SMP, sampai SMA. Aku mengamati mereka, unik. Tapi jujur, aku masih takut, bisakah aku mendongeng di depan mereka? Gitar disiapkan oleh kakakku. Setelah bersalaman dengan guru-guru, pembawa acara mempersilahkan aku kedepan.

Pikiranku melayang, mengingat apa yang aku niatkan untuk acara ini. Aku berniat untuk bersenang-senang dengan mereka, mengajak mereka berbicara, menghibur mereka, itu saja. Aku tidak akan menjadikannya beban. Karena yang dibutuhkan adalah komunikasi, senyum, dan kebahagiaan dari hati. Aku memulainya dengan bahagia, biarlah Allah yang menentukan hasilnya.

Bismillahirrahmannirrahim... Untuk mengkondisikan suasana, aku memulai dengan menyanyikan lagu Insan Utama, Hadad Alwi diiringi gitar. Mereka mulai merespon, ada yang bertepuk tangan. Ada yang memandang serius. Ada juga yang mencoba untuk menyanyi walaupun aku tahu dia tak hafal. Respon awal ini mengagetkanku. Salam pembuka ku dijawab dengan serempak. “Ulang salamnya, masih ada yang belum jawab, nanti yang jawab salam Rona doakan dapet nilai ujian yang bagus..”. Mereka menjawab mantap “Aminnn..”. Masyaallah, bahkan ini diluar dari bayanganku.

Aku menyapa mereka. Mereka pun membalas dengan wajah yang berbinar. Ya, keterbatasan mereka tak mampu menyembunyikan binar-binar itu. Dongeng kambing bernama Dompu dan Bul bul menjadi pilihanku. Aku pun bertanya, pertanyaan yang awalnya aku ragu mereka bisa menjawab. “Apa pelajaran yang bisa teman-teman ambil dari dongeng tadi?”, tanyaku bersemangat. “Harus mau mengalah!”, “Kambing!”, “Harus jujur!”, “tidak boleh berkelahi”, dst. Ternyata dugaan awalku salah, maafkan aku ya teman. Aku tak menyangka. Lagi-lagi mereka membuatku bangga. Mereka menjawab dengan jujur, walaupun ada beberapa yang tak tepat, tapi aku tak bisa menyalahkan mereka. Karena cara berpikirku dan mereka juga berbeda. Dan keberanian mereka untuk mengungkapkan pendapat saja sudah lebih dari cukup untukku. Sesekali aku mendekat, berdialog dengan mereka. Juga dengan Trimbil yang aku bawa hari itu.

Lagu Jangan Menyerah menutup perjumpaanku hari itu. Mereka ikut menyanyi, binar-binar mereka memenuhi ruangan aula. “Allah pasti kan menunjukkan... kebesaran dan kuasanya... bagi hambaNya yang sabar dan tak kenal putus asa...” ada sesuatu mengalir di rongga dadaku. Hampir saja air mataku tumpah. Tapi lebih dari itu semua, semoga pesan semangat itu sampai.

Antusiasme, sikap menghargai, keberanian, percaya diri, tawa, dan senyum mereka hari itu, mengajariku banyak hal. Saat kami teman-teman muslim berdoa pun, teman luar biasa yang beragama nasrani menyesuaikan, tak kalah khusyuknya. Aku bersyukur, lewat Ms Neti, Allah mempertemukanku dengan orang-orang luar biasa ini. Aku miris, dengan kisah-kisah dibalik kehidupan mereka yang getir, tak jarang dibuang, dikucilkan, atau disembunyikan oleh keluarga mereka sendiri. Subhanallah.

Aku yakin, Allah menciptakan sesuatu dengan maksud. Kita manusia diminta “IQRA”, membaca segala tanda-tanda yang Allah ciptakan. Dan hari ini, Allah bermaksud mengajariku tentang rasa syukur, sikap menghargai, istiqomah, keikhlasan, dan kehidupan melalui insan-insan luar biasa dengan segala ‘kelebihan’ mereka. Subhanallah walhamdulillah walaaillahailallahu allahuakbar...


Total Pageviews

Tentang Saya

My photo
Yogyakarta, Sleman, Indonesia
Seperti mentari yang merona-rona. Mungkin itu alasan sekaligus harapan orang tua saya memberi nama Rona Mentari. Saya adalah juru dongeng keliling. Storytelling Activist. Dongeng menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan saya. Salam kenal! Mari bersilaturahim juga via instagram di @mentarirona

Tentang Blog Ini

Blog ini adalah catatan tulisan berdasarkan pengalaman, cerita, karya, dan berbagai cerita penulis - Rona Mentari. Kadang juga berisi celotehan kekesalan berbentuk puisi atau sekedar kegundahan tentang sekitar.

Popular Posts

Powered by Blogger.

Followers