Rona Mentari

tell a story, reap a wisdom

Showing posts with label travelling. Show all posts
Showing posts with label travelling. Show all posts

Belajar Bercerita di Inggris (2)


“Hello Rona, We are pleased to confirm your place on the Storytelling Beyond Words course starting 25 February 2018..”


Itu adalah kalimat pertama dari email yang masuk ke saya. Alhamdulillah! Beberapa hari setelahnya saya mendapat email bahwa pengajuan diskon untuk tuition fee saya diterima. Walaupun diskon yang diberikan tidak penuh (25% dari tuition fee), tapi setidaknya ini bisa membuktikan kepada target sponsor bahwa saya layak untuk mereka dukung.

Setelah mendapat beberapa tanggal penting terkait waktu pembayaran dan pembuatan visa, saya mulai merancang target pencarian sponsor. Saya list beberapa target sponsor seperti perusahaan-perusahaan, pemerintahan, sampai orang-orang kaya yang saya kenal. Saya buat proposal, saya datang dan cerita, saya telfon sampai bosen, saya minta bantuan teman, dan seterusnya.

Hingga saya dapat dua orang yang bersedia mendukung saya secara materi. Alhamdulilah. Kadang kita nggak tau dari mana Allah nitipin rejeki kita, jadi mencoba dan percaya diri jangan sampai terlewat. Kedua orang baik ini memberikan bantuan dengan nominal yang bagi saya banyak. Tapi belum cukup untuk memenuhi biaya studi dan biaya hidup saya selama disana nanti. Masih butuh sekitar 90 persen dari total kebutuhan. Saya kemudian juga sudah mengajukan beasiswa ke program Beasiswa Unggulan Non Degree dari Kemdikbud dan ke beberapa perusahaan.

Tenggat waktu pembayaran sudah semakin dekat. Belum ada tanda-tanda pengumuman dari kemdikbud dan belum ada berita baik dari proposal yang sudah saya ajukan sebelumnya. Belajar dari nasihat para orangtua, berusaha dan terus berdoa, saya juga berusaha tetap yakin. Keyakinan ini tentu dibarengi sama usaha. Insyaallah semesta akan bantu.

…..

Alhamdulillah saya mendapat pengumuman membahagiakan dari kemdikbud. Saya mendapat beasiswa unggulan non degree. Program yang saya ajukan akan dibiayai oleh Direktorat Kerjasama Luar Negeri, dari Dirjen Kebudayaan, Kemdikbud. Walaupun sebelumnya sempat tiga kali mengajukan pemunduran tenggat waktu pembayaran ke college karena saya belum bisa membayar dengan tepat waktu. Oh iya, sayangnya, program Beasiswa Unggulan Non Degree ini sudah tidak ada lagi tahun ini. Jadi saya juga sedih saat merekomendasikan teman-teman untuk apply beasiswa ini. Tapi ternyata tahun 2018 ini tidak ada. Direktorat terkait mengalihkannya ke beberapa program residensi. Ohya, bagi yang ingin tau lebih lanjut tentang Beasiswa Unggulan, silahkan cek di beasiswaunggulan.kemdikbud.go.id

Proses ini Alhamdulillah terlewati. Intinya sih, yakin, usaha, dan doa. Insyaallah semesta akan ikut membantu mewujudkannya! (Gimana kalau nanti akhirnya benar-benar nggak terwujud? Pertama, yakin itu berarti kita percaya bahwa sesuatu itu akan terwujud. Jadi jangan terlalu banyak mikir ini sulit dulu. Tapi tetap siap ketika emang benar-benar tak terwujud. Artinya, kita percaya lagi, bahwa aka nada yang jauh lebih baik dari ini. Insyaallah!)  



Emerson College semakin dekat. Persiapan keberangkatan dimulai. Saya mulai mempersiapkan diri dengan belajar lagi Bahasa Inggris terutama reading dan speaking. Just to let you know, saya ini nggak jago Bahasa Inggris. Di SD saya dapat nilai terendah di angkatan saya untuk Bahasa Inggris. Inget banget saat itu di pelajaran Bahasa Inggris saya dapat nilai 4,6!

Pelajaran Bahasa Inggris saat SD saya anggap mirip dengan Matematika karena menggunakan rumus! Saya ingat sekali saat guru mengingatkan untuk menulis kata dalam Bahasa Inggris dengan ejaan yang benar. Karena, salah satu huruf saja, akan salah. Saya ingat, chair (kursi) adalah salah satu dari sedikit kata Bahasa Inggris yang saat itu amat saya ingat. Saya senang sekali saat mendapat soal ulangan yang diminta menuliskan kata Bahasa Inggris dari beberapa gambar. Salah satu gambarnya adalah kursi.Untuk gambar lainnya saya tidak paham benar. Tapi yang saat itu saya yakini 100 persen adalah kursi!

Hasil ulangan Bahasa Inggris dibagikan. Ada angka 4,6 di ujung kanan kertas. Ini nilai terjelek yang pernah saya dapat. Mata saya menyapu pandangan di kertas yang sedang saya pegang. Bagaimana soal ‘kursi’? Ternyata SALAH! Saya sedih sekali! Saya menulis CAIHR, bukannya CHAIR! Tuh kan, salah satu huruf saja, salah! Sebal rasanya.

Iya, itu tadi sedikit cerita tentang pengalaman saya dengan Bahasa Inggris saat masih SD. Hehe. Kembali ke persiapan. Saya memilih Mba Vani sebagai guru privat saya untuk belajar Bahasa Inggris kali ini. Beruntung punya teman yang bisa jadi guru juga. Jadinya belajarnya juga nggak malu-malu atau gengsi. Hihi.

Bersambung lagi ya. Tulisan selanjutnya, saya akan bercerita tentang storytelling course di UK. Silahkan ikuti blog ini untuk dapat info terbarunya.

Rona Mentari

x

Ngenalin Trimbil di Sydney


(Mendongeng di Australia bag 3)

Saat itu seluruh storytellers dibagi ke beberapa kelas sesuai minat. Saya memilih salah satu kelas yang saat itu dimulai dengan meminta seluruh peserta memikirkan satu tokoh dalam dongeng. Yak! Baru masuk udah diminta presentasi satu-satu. Mulai deh deg-degan. Tokoh yang pertama kali terbersit di pikiran dan ngga pergi-pergi adalah si Trimbil. Tokoh dongeng saya yang sudah melegenda. Melegenda di pikiran saya sendiri, hahaha.

Karena kebetulan saat itu satu kelas dengan Simon si kartunis yang keren, saya jadi dapet ide! Yaitu menjelaskan tokoh dengan gambar. Lumayan bisa membantu, pikir saya. Tapi jangan dibandingkan gambar saya dengan Simon si kartunis, tentu bagai pinang dibelah dua, tapi yang satu dimakan Codot. Nggakpapa, setidaknya saya masih punya sisa-sisa ilmu menggambar yang diajarkan guru gambar saya saat masih SD.

Tibalah giliran saya. Saya minta ijin kedepan untuk menggambar di flipchart. Sekitar 30 detik berlalu dan jeng-jeng-jeng. Inilah gambar saya tentang sosok Trimbil. Saya menjelaskan sedikit detail-detail tentang Trimbil. Seperti kegundulannya, sarung yang selalu dia pakai, dan kakinya yang selalu dihiasi sendal jepit. Cringgg..! *Lah kok mirip Upin Ipin? XD

Semua orang mengangguk-angguk lalu bertepuk tangan. Dan saya pun berhasil memperkenalkan Trimbil di Sydney. Trimbil selamat ya...!  


suasana kelas (2)

Suasana kelas (2). Kalau jeli, gambar Trimbil ada di flipchart yang kecil.

Kurang jelas? Ini lebih dekat. Plis jangan diketawain. Plis!

- Rona

Apakah Kartini Jatuh Cinta?

Kemarin saat melakukan perjalanan untuk menghadiri pernikahan teman di Jepara dan Rembang, kami nyempetin mampir ke museum kartini di Rembang. Kapan lagi menyelami sosok Kartini lebih jauh di tempat dimana ia memperjuangkan pendidikan untuk kaum perempuan saat itu. Museum ini dulunya rumah Bupati Rembang, yang juga suami RA Kartini.

Kami membayar 2000 rupiah per orang untuk bisa masuk ke kawasan museum. Murah, seneng dong. Tapi jangan terlalu berekspektasi tinggi dengan kondisi museum yang dikelola pemerintah. Museum ini terletak satu lokasi dengan kantor pemerintahan di rembang. Saat saya datang. Ada banyak pengunjung lain. Maklum, hari itu hari libur dan masih dekat dengan tanggal 21 April. Soal 21 April ini, hampir semua kantor yang saya lihat di Rembang memasang spanduk besar-besar di depan kantornya terkait semangat Kartini.

Oke, kembali ke museum. Walaupun kita tahu bagaimana rata-rata kondisi museum di daerah yang dikelola pemerintah, tapi jangan khawatir soal keotentikan koleksi. Saya berdecak kagum dengan berbagai perabot yang digunakan RA Kartini jaman itu. Bisa dibilang sangat mewah. Tentu hal yang wajar mengingat sang suami adalah bupati yang terkenal kaya raya. Eits, tapi RA Kartini bukan menikah karena harta. Sepertinya mustahil jika sosok Kartini yang kita kenal menikah karena alasan harta. Kartini menikah karena diminta oleh orangtuanya.

Apakah Kartini pernah jatuh cinta?

Itu pertanyaan yang terngiang-ngiang terus dalam pikiran saya. Jika ia menikah karena disuruh, lalu dimana jatuh cintanya? Eh tunggu, bisa jadi Kartini jatuh cinta setelah menikah. Seperti kata Ustadz, jatuh cinta yang sesungguhnya adalah yang setelah menikah. Jatuh cinta setelah menikah itu insyaallah karena Allah. Loh kok malah bahas ini?

Tapi coba, kalau alasan menikahnya karena ketaatan Kartini kepada orang tuanya, maka luar biasa cinta Kartini kepada orangtuanya. Ridho Allah kan ada di ridho orang tua. Keren Kartini.
Hingga dalam salah satu ruangan di Museum Kartini, ada sebuah tulisan Kartini tentang ini.


Ini tulisan Kartini yang saya baca secara gamblang bicara cinta pertama kali. Ia mengatakan, dirinya tak bicara tentang cinta antara pria dan wanita. Menurutnya itu soal yang rumit dan ia tak punya pendapat tentang itu. Ah Kartini, cintamu terhadap kaummu, bangsamu, dan penciptamu telah menyebarkan banyak cinta ke pelosok negeri ini. Dan itu lebih berarti.

Kembali ke sosok Kartini. Menurut saya, sosok yang punya andil besar dalam memasyarakatkan surat dan pemikiran Kartini adalah Ny. Abendanon. Teman korespondensi Kartini di Belanda. Surat-surat kepada Ny. Abendanon lah yang secara rapi tersimpan dan terdata hingga terpublikasi dalam sebuah buku. Dan tentu, karena Kartini menulis. Tulisan itu menjadi bukti otentik atas pemikirannya. Walaupun, ada juga kontroversi yang mempertanyakan keabsahan surat-surat Kartini. Ah, bagaimanapun keadaannya pasti selalu ada pro dan kontra.

Lebih dari itu, saya pribadi mengagumi Kartini. Harum namamu hingga kini. Semoga sampai pula pesan dan semagatmu kepada kami, kaummu.

Oh iya. Saat keluar museum. Petugas meminta kami menuliskan pesan dan kesan. Saya menuliskannya panjang lebar, salah satunya “Tim Museum Kartini coba studi banding ke Museum Ulen Sentalu di Jogja. Belajarlah dari mereka.”


Berangkat Sendiri


Mendongeng di Sydney (bag 3)


Beruntung! Walaupun akhirnya saya berangkat sendiri, ada teman baik yang sudah menunggu dan siap untuk direpotin di Sydney. Septa namanya, temen dari SMA yang pas banget lagi kuliah di Sydney. Setidaknya, Septa yang akan menuntun jalan saya yang nggak tau apa-apa soal Sydney. Sekaligus bisa numpang nginep di flat nya. 

Saya sendirian dalam perjalanan ke Sydney, dianter Bunda Tatty Elmir saat itu ke bandara Jakarta. Bunda juga bantu menyiapkan beberapa hal terkait pakaian, makanan, dan wejangan-wejangan buat anak ketemu gedenya ini yang belum pernah jalan sendirian ke luar negeri.
Perjalanan lancar saja. Sok tenang walaupun sebenernya ketar-ketir. Transit bentar di KL terus lanjut direct flight ke Sydney. Perjalanan lumayan ngebosenin karena pake maskapai low cost tanpa hiburan di kursi. Tapi nggak papa. I’m on my way to tell a stories in Sydney! There is nothing more amazing than this! 
 
Perjalanan lancar saja. Mulai ketar ketir lagi saat sampai bandara Sydney, ada anjing pelacak lah, security check super ketat lah, sampai kekhawatiran ngga langsung nemu Septa nanti di Bandara. Tapi kekhawatirannya ndak lama, setelah lolos dari anjing pelacak. Septa sudah stand by di pintu keluar. Dan yeay! Kami heboh bertemu di bandara.

Alhamdulillah! Dimulailah petualangan kami di Sydney. 


Septa sudah menyiapkan kartu multitrip untuk semua angkutan umum massal yang akan saya pakai selama di Sydney. Jadi langsung naik bis deh ke arah flat nya di Randwick. Randwick ini ternyata terkenal sama horse racing nya. Sayang nggak sempet liat pertandingannya selama disana :(

Sampai di flat Septa, saya mengeluarkan bekal terberat *seriusan berat*. Apa itu? Koin dollar! Berapa jumlahnya? 400 dollar! Haha, jadi salah satu saudara saya memberi bekal uang 400 AUD tapi dalam bentuk koin. Septa sampai geleng-geleng kepala. Tapi jangan khawatir, tetap berlaku disana.

"Kita ke bank habis ini, kita tuker pake uang kertas aja", kata Septa.

Setelah kita hitung manual di rumah, dibawalah koin-koin itu ke bank. Ada mesin otomatis yang menghitung. Kita tinggal masukin aja ke mesinnya dan biarkan mesinnya memakan koin-koin kita. Keluar deh jumlahnya dalam bentuk kertas. Baru kita tukarkan di teller.

"darimana kalian dapat koin sebanyak ini?", kata teller nya keheranan.
"hadiah dari saudara", kata kami sambil tertawa. 

Yeay alhamdulillah, pulanglah kami dengan tambahan uang di kantong.

Dukungan Mendongeng di Sydney

Sempet kebingungan awalnya, duit yang dibutuhkan nggak sedikit. Jual hengpong jadul saya kalo dilipatgandakan jadi 50 kali juga nggak bakal cukup. Terus tiba-tiba inget saat usaha cari dana buat ke NZ dua tahun sebelumnya, sampe ngamen-ngamen segala. Eh tapi pada akhirnya dapat juga. Allah memang mau liat usaha kita. Yaudah, yakin aja bisa. Sekarang waktunya usaha.


Pertama, lapor dulu sama keluarga, biar mereka ikut bantu dukung dan doain. Ohya, di masa seperti ini, jejaring pertemanan sangatlah penting. Bukan hal yang tidak mungkin kalau ternyata misal, kita dapat bantuan dari kakek, paman, istri, tetangganya teman kamu! Misalnya.

Akhirnya dibuatlah proposal sebaik mungkin berbekal acceptance letter dari committee-nya Sydney International Storytelling Festival. Saat itu saya bikin bareng kakak. Kami berencana berangkat bertiga. Ngajuin kemana-mana. Pakai jejaring pertemanan. Banyak yang respon dan berniat bantu. Setidaknya kasih informasi kontak bagian terkait sponsorship. Usaha aja. Papa juga ikut bantu, terutama bantu meyakinkan saya kalau insyaallah bisa dapat, yang penting usaha. Walaupun ketar ketir juga karena waktu makin dekat. Belum bikin visa, belum kalau tiketnya naik terus.

Ternyata dari jejaring pertemanan, ada satu perusahaan tempat teman saya bekerja yang merespon baik proposal saya. Ia bekerja di salah satu anak perusahaan Pertamina - Pertamina Hulu Energi Offshore Northwest Java (PHE ONWJ). Melalui teman tersebut, saya dihubungkan dengan bagian terkait yang ternyata juga menyambut baik proposal ini. Beberapa kali berbalas email dan ngobrol tentang beberapa kesepakatan, PHE ONWJ akhirnya memutuskan memberi saya sejumlah dana. Wow! Senang sekali! Alhamdulillah! Jumlahnya memang belum menutup total biaya, tapi ini jadi suntikan semangat untuk berjuang cari dana penuh.

Akhirnya nggak kerasa sudah sekian waktu berlalu, belum ada progres lagi terkait dana walau sudah prospek kesana kemari. Makin ketar ketir dong. Hingga akhirnya Papa telfon. Ternyata ia baru saja bertemu dengan Pak Dirjen Kebudayaan yang saat itu dijabat Pak Prof. Kacung Marijan, Ph. D secara tidak sengaja pada sebuah acara. 

Papa yang teringat anaknya lagi berjuang terseok-seok buat dapet dana untuk bisa mendongeng tentang Indonesia di luar negeri ini, kemudian sempat ngobrol dengan dengan Pak Kacung Marijan.


Dari obrolan singkat tersebut, tanpa diduga, Pak Dirjen memberikan jalan untuk saya dapat berangkat mendongeng ke Sidney melalui dana dari dirjen kebudayaan Republik Indonesia. Pak Dirjen tau ada anak bangsa yang ingin mengharumkan nama negara melalui dongeng di luar negeri. Ia tahu gimana pentingnya dongeng dalam kehidupan tutur bangsa ini. Dia kasih kesempatan. Senang sekali!

Setelah mengikuti prosedur birokrasi dan bolak-balik ke kantor dirjen, dana untuk mendongeng di Australia akhirnya cair. Saya akan berangkat sendiri karena dirjen kebudayaan hanya membiayai kebutuhan saya. Tentu tak masalah jika dibandingkan dengan pilihan tak jadi berangkat. Alhamdulillah! Saya pun bersiap!

Bersambung



Masjid di Hatyai


Bismillahirrahmannirrahim





Hatyai sepertinya punya cukup banyak komunitas muslim. Saya beberapa kali melihat masjid dengan kerumunan perempuan berjilbab dan laki-laki berkopiah disekitarnya. Walaupun, saya juga dengan mudah menemukan gerobak penjual makanan berisi kepala babi digantung-gantung di pinggir jalan. Horor juga lihat kepala babi ini. Bukan apa-apa, lihat babi aja jarang, eh ini malah lihat lima kepala babi digantung dengan mata merem. *yaiyalah masak matanya melek, lebih horor lagi* Haha. Tapi artinya, poinnya adalah, toleransi beragama masyarakat Hatyai terpelihara baik. Karena masyarakat Islam dan bukan Islam berdampingan dengan baik.



Saat itu saya dan kakak berjalan menyusuri jalanan Hatyai, hingga kami menemukan sebuah bangunan berkubah. Kami mendekat. Benar dugaan kami, itu adalah bangunan sebuah masjid yang dominan warna hijau. Mungkin itu masjid NU (loh!) *canda. Oke! Ini waktu yang tepat untuk kami sholat dan istirahat.

Masjid ini cukup besar. Tapi sangat sepi. Saat itu memang bukan waktu sholat. Kami hampir tidak menemukan seorang pun. Setelah menyapu pandangan, kami menuju sebuah pintu kecil di ujung bangunan. Itu adalah tempat sholat untuk wanita. Cukup kecil jika dibandingkan dengan luas masjid keseluruhan. Kami belum bertemu dengan jamaah lain sampai saat itu. Setelah sholat, ada dua jamaah perempuan masuk. Ia orang Thailand berjilbab, kami hanya saling melempar senyum. Bisa terulang bahasa planet kalau kami saling bicara. Seperti cerita di postingan tentang Hatyai sebelumnya.




Tentang traveling ke tempat yang minoritas muslim, menurut saya, masjid adalah sebuah patokan. Karena bisa dipastikan di sekeliling masjid terdapat banyak makanan halal. Sama juga seperti di Hatyai. Makanan halal bertebaran di sekeliling masjid. Jadi tidak usah khawatir. Dari situ kita bisa beli makan berlebih untuk disimpan di kotak makan. Seperti yang saya dan kakak lakukan. Kami membeli makanan untuk dibawa pulang. Mumpung halal. Sampai di hotel, kami akan meminjam microwave hotel untuk memanaskan makanan. Praktis.

Kembali ke masjid. Kami sempat melepas lelah dulu sebelum melanjutkan perjalanan. Duduk-duduk di bawah pohon yang ada di pelataran masjid sambil menunggu kakak saya menyelesaikan tilawahnya. Sebelum keluar masjid, foto dulu lah buat kenang-kenangan. Cekrek! 






(Rona Mentari)


Tersesat di Hatyai

Bismillahirrahmannirrahim..


Mungkin salah satu hal paling menakutkan sekaligus menyenangkan ketika sedang berkunjung ke sebuah daerah adalah tersesat! Namanya juga travelling, get lost menjadi hal yang biasa. National Geographic aja punya program khusus “Let’s Get Lost”. Eh program khusus atau sebutan untuk NG Adventure nya aja ya? Pokoknya ada get lost get lost nya deh. Hehe.


Jadi ceritanya, saya dan kakak sedang ada program di Malaysia. Halimah, teman saya yang rekomendasiin program itu. Nah, melihat ada peluang ke Thailand dengan kereta dari KL, kenapa kita tidak lanjutkan perjalanan kesana? Yes, saya dan kakak memutuskan untuk berangkat ke Hatyai, Thailand dari KL menggunakan kereta selama 20 jam! Eh, tapi tenang dulu, syukurlah kereta disini ada beberapa pilihan. Salah satunya 'sleepers' yang artinya ada tempat tidur. Jadi bayangkan aja sebuah hotel bergerak yang membawa kita dari satu negara ke negara lainnya dengan pemandangan alam yang bikin mata segar. Aha!


Sampailah kita ke Hatyai dan dimulailah petualangan kami. Kita sih mirip-mirip aja sama orang Thailand, tapi bahasanya itu lo. “Tak tuk tarak tuk plak”, itulah yang saya denger kalau orang Thailand sedang bicara. Hurufnya juga super duper unik. Lebih mirip sama aksara jawa. Huruf cacing kita nyebutnya. Bener-bener have no idea! 


Kecuali pas lihat foto dibawah ini, jelas kita tahu kalo ini foto tanda ada sebuah pernikahan didalam. Dua nama orang yang menikah, seperti yang sering ada di Indonesia. Hahaha.

                                               


Oke, jadi bagaimana kita tersesat di Hatyai?


Saat itu kami pergi dari hotel ke tempat-tempat unik. Seperti pasar, tempat-tempat ibadah, masjid, pusat perbelanjaan barang khas, dan kulineran menggunakan Tuk-tuk. Tuk-tuk ini adalah alat transportasi populer di thailand. Semacam Bemo kalau di Jakarta. Nah kami pun berniat untuk pulang. Kami menginap di PB Grand Hotel yang tempatnya memang bukan di pusat turis. Kami bilang ke sopirnya “PB Grand Hotel”. Bapak itu mengiyakan. Eh setelah perjalanan cukup panjang, kami diantar ke Grand Hotel, bukan PB Grand. Wrong way. Saya bilang kalau bukan ini hotel yang saya maksud. “PB Grand Hotel”, kata saya menggunakan cara berlatih vokal teater selama ini. Biar jelas. Ia mengiyakan. Kami diantar lagi. Jalan cukup panjang dan kami belum sampai juga.

Disinilah salah satu kekurangan Tuk-tuk, tidak bisa berkomunikasi dengan baik dengan sopirnya. Karena sopir di depan dan kita dibelakang terhalang sama besi penutup. Jadi kami nggak bisa leluasa memberi tahu kalau sepertinya ini bukan jalan yang tepat. Atau setidaknya tanya, apa mereka tahu PB Grand Hotel karena kami juga ngga tahu jalan.

Hingga akhirnya mampirlah Tuk-tuk ini ke pom bensin. Tinggal kami berdua penumpang yang tersisa. Dan hari sudah mulai gelap. Kesempatan ini kami gunakan untuk menanyakan ke Pak Sopir. Benar saja, ternyata Pak Sopir memang tidak tahu dimana hotel kami berada. Selain mengisi bensin, ia berusaha bertanya kepada petugas pom bensin dimana letak PB Grand Hotel. Saya dan Kakak turun untuk ikut menjelaskan setahu kami. Yang kami tahu adalah sebatas, PB Grand Hotel ini warnanya merah, berada di pinggir jalan raya besar seperti by pass. Jalannya bernama RadUthid.

Saya udah bilang RatUthid Road ini berkali-kali tapi Bapaknya juga belum ngerti. Atau mungkin saya yang salah mengucapkan? Bisa jadi. Makanya saya coba tuliskan pakai huruf latin. Percakapan kami di pom bensin cukup lama. Antara saya dan kakak, sopir Tuk-tuk, petugas pom bensin, dan seorang lainnya yang berusaha membantu. Lucu sekali kalau ingat saat itu. Kami semua berusaha bicara satu sama lain tapi menggunakan bahasa yang berbeda. Bahasa tubuh udah nggak mempan lagi kali ini. Malah kami sempet ngobrol tentang dari mana asal kami dan seterusnya. Saya capek juga. Karena mau pakai Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Bahasa Jawa pun mereka ngga paham. Begitupun saya ngga paham dengan bahasa mereka. Bahkan saya sempat iseng pakai bahasa planet saat udah mulai lelah. Kakak saya cekikikan aja. Bahasa Planet maksudnya bahasa asal, asal “taraktungplangbengdur” gitu. Toh mereka juga sama-sama ngga paham. Hahaha.

Hingga akhirnya, Pak Sopir memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Sepertinya ia sudah mendapat ilham dari obrolan unik bin kocak tadi. Pak Sopir mengemudikan Tuk-tuk dengan perlahan. Sekitar 15 menit berjalan, kami melihat sebuah bangunan dengan warna dominan merah melambai-lambai ke arah kami. Benar! Itu PB Grand Hotel! Kita berteriak heboh ke Pak Sopir. Kami turun dan berterimakasih kepada Pak Sopir, kami memberinya uang melebihi perjanjian awal. Jelas saja kami beri lebih karena sudah terlalu banyak menghabiskan bensin Tuk-tuk. Ia sempat menolak, tapi kemudian kami paksa untuk menerima. Alhamdulillah kami sampai.

Oh iya, orang-orang Hatyai baik-baik. Pak Sopir barusan juga sangat baik, tetep sabar nganterin kita yang kehilangan arah dan ia tidak meminta uang lebih. Mungkin jalur yang dilalui memang bukan jalur Tuk-tuk nya karena di awal gagal paham soal nama hotel.  Bahkan mungkin itu sudah diluar jam kerjanya mengendarai Tuk-tuk.

Sampai hotel kami sudah lelah. Ketawa-ketiwi sendiri kalau ingat kejadian barusan. Yaiyalah mereka ngga paham dengan tulisan Jalan RadUthid yang tadi kita tulis. Mereka kan pakai huruf cacing, dan yang kita tuliskan adalah huruf latin.

Dan, tebak apa yang saya temukan saat merapikan barang bawaan?

Kartu nama hotel lengkap dengan alamat berhuruf cacing! Jeder. Dari tadi saya bawa kartu nama itu, tapi ngga kepikiran untuk memberikan langsung ke Pak Sopir!

Sampai jumpa lagi.

Gamelan di Wellington

Anna, seorang puppeteers di Wellington yang mengajak saya datang ke sebuah tempat dimana saya bisa menemukan seperangkat gamelan lengkap disana. Tentu tawaran yang menarik, walau sejujurnya yang saya bayangkan hanya beberapa instrumen gamelan.


Ternyata dugaan saya salah! Saya berada diantara instrumen gamelan lengkap dan ratusan wayang kulit asli Indonesia. Bertempat di sebuah aula sederhana, gamelan dan wayang itu menghuni.
 


Hari itu, ada latihan gamelan rutin oleh orang-orang NZ. Saya dipertemukan dengan empu nya gamelan dan wayang ini. Seorang ibu berusia sekitar 60 tahunan. Ia bercerita, semua ini dibawa almarhum suaminya dari Indonesia, tepatnya dari Cirebon.

Permainan gamelan mereka sederhana saja, yang menarik adalah penggunaan saxophone yang berbaur diantaranya. Tapi itu bukan yang terpenting, yang penting adalah, mereka berlatih gamelan!


28/11/2014

Total Pageviews

Tentang Saya

My photo
Yogyakarta, Sleman, Indonesia
Seperti mentari yang merona-rona. Mungkin itu alasan sekaligus harapan orang tua saya memberi nama Rona Mentari. Saya adalah juru dongeng keliling. Storytelling Activist. Dongeng menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan saya. Salam kenal! Mari bersilaturahim juga via instagram di @mentarirona

Tentang Blog Ini

Blog ini adalah catatan tulisan berdasarkan pengalaman, cerita, karya, dan berbagai cerita penulis - Rona Mentari. Kadang juga berisi celotehan kekesalan berbentuk puisi atau sekedar kegundahan tentang sekitar.

Popular Posts

Powered by Blogger.

Followers