Rona Mentari

tell a story, reap a wisdom

Celoteh Kendaraan

Pagi ini kupacu kendaraanku sedang
Tak ada yang perlu kukejar kejar
Tawa dan canda dari teman sejuang mengiringi senyumku
Memulai hari disini

Matahari belum tampak benar saat raungan kendaraan berdesak di gang-gang sempit
Di jalanan dua jalur yang kemudian dipaksa menjadi tiga empat jalur

Penuh merayap
Kendaraan yang klaksonnya telah letih berbunyi
Kendaraan yang tubuhnya lekat debu lumpur jalanan
Kendaraan yang kreditnya macet
Yang baru dibeli kemarin pakai duit utang
Yang plat nomor belakangnya dicopot
Yang jarum speedo meternya tak berfungsi lagi
Yang minta diberhentikan barang sehari saja

Hampir saja kulihat tabrakan besar
Saat orang didepanku menginjak gasnya sebelum hijau menyala
Beruntung rem mereka masih cakram
Decitan ban mengganggu pendengaranku pagi ini

Lalu, terpaksa kutinggalkan kendaraan di parkiran kantor yang entah namanya apa
Tak cukup waktu urus ban ku yang bocor
Ada paku menancap di kulit nya
Menancap juga di dada kiriku

Kutunggu beberapa masa di pinggir raya
Sebuah kendaraan meraung mengejarku yang berdiri santai di atas trotoar
Diatas trotoar saudara saudara
Klakson dibunyikan tak henti-henti
Sedikit sayup sayup karena ada earphone di telinga ku
Hampir saja aku jadi sasaran jotosnya
Pengendara kendaraan di trotoar

Kuputuskan menuju halte trans
Lamanya menunggu sebenarnya sama saja jika ku urus ban kendaraanku dulu
Sudahlah, semoga bos mengerti

Pulang
Telah kutimbang timbang
Kereta yang tercepat
Apalagi kini harganya murah
Kulangkahkan kakiku ke stasiun terdekat
Walau tawaran ojek menggoda juga

Kaget bukan main
Saat kusaksikan manusia berdesak tak manusiawi diatas roda besi
Apa apaan ini

“Masuk mba”, ujar seorang Ibu didalam
Padahal jelas, untuk memasukkan tas ku saja seperti tak mungkin
Ditariklah aku
“Hadap ke pintu mba”, katanya lagi
Agak kudorong memang, maaf
Kuhadapkan diri ke pintu
Lebih baik, walau tentu saja ngeri

Kulihat sekeliling
Ibu-ibu paruh baya
Perempuan muda dengan jas kerjanya
Atau mahasiswa dengan tetap, smartphone di tangannya

Aku pun tak bisa bergerak
Kubayangkan jika tubuhku mungil
Mungkin bisa saja aku tenggelam dalam sesak yang, berbahaya

Tubuh kami berdesak bak satu rangkai
Bergerak sama
Kanan dan ke kiri
Atau sama sama terhimpit saat kereta mau berhenti
Jeritan dan omelan jadi iringan nada sore ini
Sampai seorang ibu memecah sunyiku
“hitung-hitung latihan tawaf..”, ujarnya
Duh Ibu, masih saja kau berfikir baik, saat aku saja tahu kau sedang tidak baik baik saja

Terlalu baik
Ada yang meringkik
Jagoan tengik
Membuat bulu begidik
Epic!


Rona Mentari 30/3/14 2.03

"Jangan Salahkan Lupa"

Bismillahhirrahmannirrahim..

Ini bukan yang pertama kali, tapi kuharap yang terakhir. Ya, kemarin Allah mengingatkanku dengan caraNya yang lembut. Menyadarkan akan kekekalan yang sejatinya hanya milik Allah semata.

Ikat unta mu dengan kuat, lalu melengganglah meninggalkannya. Jangan engkau sebut ‘nanti dulu’, ‘nanti saja’, atau ‘ah tidak apa-apa’ sebelum segala daya engkau tunaikan untuk mengikatkan kuat unta mu. Karena kita baru merasa, setelah tiada. Merasa setelah tiada.

“Orang kecil itu selalu membuat masalah kecil jadi besar, sedangkan orang besar itu biasa menghadapi masalah-masalah besar”, kata seorang Bapak kepada anak-anaknya. Kuingat terus itu saat rintang menghadang. Tenang.

Aku jadi ingat, saat masih di bangku SMA, aku adalah si anak berkalung note kecil. Sadar betul akan penyakit lupa. Kubeli buku kecil. Kuberi nama “Commitment Book”. Isinya berbagai janji, tugas, dan berbagai have-to-do-list. Terbukti efektif memang. Tanda centang di sisi kanan menjadi sebuah kelegaan karena itu berarti aku telah menyelesaikannya. Mungkin juga, ini cara yang tepat untuk melatih ingatan kita. Padahal kalo diingat, betapa anehnya berkalung buku kecil kemana-mana. Tapi dasarnya saat itu saya cuek, jadi santai saja berjalan nyengir kemana-mana dengan kalung notes bak penyanyi hiphop.

Ah itu dulu.

Akhir-akhir ini, saat sudah tak lagi di bangku SMA. Bahkan hampir melewati masa kuliah, berbagai deadline project memang menggurita. Aku masih memiliki ‘”commitment book” itu. Tapi belakangan kuabaikan. Tak kutengok sedikitpun. Sempat kutulis beberapa komitmen. Tapi itu pun terlewatkan begitu saja tanpa centang di sisi kanan. Kekuatannya jadi memudar. Aku tak lagi komit dengan si buku komitmen. Terlupakan.

Tapi tunggu, ini bukan tentang lupa. Jangan salahkan lupa jika kita tak berusaha mengingat. Jangan salahkan lupa jika kita saja tak benar-benar menginginkannya. Jangan salahkan lupa. Lupa adalah perpanjangan tangan dari ketidak pedulian dan ketidak berpihakan.

Sampai kemudian, “Kayak gini kok berkali-kali, kalau ngurusin hal remeh temeh aja kamu seperti ini, gimana mau ngurusin hal-hal besar?”, kata Papa kepada saya lewat telfon.

Setelah itu saya diam beberapa detik.

Benar kata Papa. Kata-katanya menyadarkan saya akan pentingnya mementingkan hal remeh temeh untuk kemudian mempertahankan kepentingan-kepentingan besar untuk orang banyak. Terimakasih Pa untuk nasihatnya.

Sudah. Sedih, sudah. Sebel, sudah. Marah, sudah. Sekarang waktunya bebenah. Merapikan puzzle yang sempat berantakan. Menata kembali janji-janji. Seperti ketapel. Dibutuhkan tarikan ke belakang untuk bisa meluncurkan peluru dengan kencang. Tepat sasaran. *emot senyum nyengir*


Ah, maaf jika aku terlalu banyak nyampah di waktumu. Terimakasih sudah membaca catatan kecil ini. Hey lihat, Allah masih menyiapkan udara segar untuk pagi kita, mencukupkan makanan untuk hari hari kita, memberikan pandangan yang sempurna, raga yang sehat, dan berbagai nikmat tak terhingga. Bergegas! :)*emot senyum*

Successful Storytelling

In September 2013, I attended Singapore International Storytelling Festival. I also joined a 'successful storytelling' class that taught by Len Cabral, an international professional storyteller.  

This is my note from successful storytelling class. Enjoy!


Room setup

 - Make the audience closer.

-  This is the ideal position. No more younger children tired because they looked at the older children. (learn to be a good audience)

       -          Or make them like this





When telling stories
-          Eye contact’s need
-          You need to build (Engagement, entertainment, aducation)
-          Find the stories
-          And practice it.
-          

      We don't need to move highly 
-          If just a little audience, prefer without microphone
-          Start and finish should be powerful!
-          For young audience, we can use participation
-          Make it happen! à funny-scary-surprising!

We are the one who know the stories! 

The ideal duration to tell one stories
3-5 years                          : 15 minutes
Ideal for all age                 : less than 45 minutes


How about story from parents? How to tell it?
Parents don't need to use a dramatic performance. Because the children just wanna hear your story.


As a storyteller, we've to read a lot. We can build our own stories.

"Duhai Ummi"

Duhai Ummi
Lihatlah ini
Lalu lihatlah mataku
Seraut wajah nan belum tergores
Sepucuk tatapan harapan abadi
Menanti belaian bunga-bunga
Dari lembutnya telapak tanganmu
Dari indah nya tutur katamu
Seindah isi firman di kitab ini

Duhai Ummi
Kau kan hidup di waktu datang
Saat yang bagiku masih jadi tanda tanya
Apa gerangan yang kan menghadang
Kau pun tak tahu duhan ummi
Kita hanya mampu bertanya
Dan menyapa selamat datang
Wahai masa depan

Duhai Ummi
Meski jalanan masih gelap
Meski ummat masih terlelap

Janganlah putus tuk berharap
Pastikan sebelum datangnya siang
Alquran di tanganku ini
Adalah pembela yang suci

Duhai Ummi
Bukalah dadaku
Isilah dengan tutur katamu
Masukkan nilai fitrahku
Ajarkan kepadaku
Apa arti bisikkan Rabb-ku



Abdullah, Jogja 22 Okt 2003

(Terkaget-kaget saat menemukan kertas puisi lecek ini di tumpukan berkas saya. Masih dalam kondisi yang sama saat saya gunakan dulu. Ini adalah puisi yang saya bacakan saat mengikuti lomba baca puisi di UGM antar SD se DIY. Saya pulang membawa piala juara 1 dan tentunya, sepucuk senyuman hangat dari Umi-ku, yang sebenarnya)

Dua Kata Favorit


Akhir-akhir ini saya lagi seneng banget sama dua kata. Dua kata yang menjadi jawaban atas pertanyaan di benak saya. Dua kata yang menjadi jalan keluar dari berbagai benang kusut di kepala saya. Dua kata yang kemudian selalu saya sebut-sebut di tiap doa. Dua kata yang ketika saya mengingatnya, maka senyum tersungging dari wajah saya.

Suatu hari seseorang mengeluh karena udara panas hari ini. “Ah panas!”.

Seseorang lainnya berkata, kau tahu? Sinar matahari yang sampai ke kulit kita sudah melalui saringan dari berbagai lapisan langit. Sudah di filter agar sinar matahari itu mampu menyentuh kulit kita. Coba kalau sinar matahari menyentuh kulit kita tanpa filter? Bisa terbakar seketika kulit kita ini.

Cerita diatas tadi cuma bagian sederhana dan kecil dari kehidupan. Masih banyak hal-hal yang mungkin bikin kita nggak bisa dengan mudah menerima berbagai kondisi yang ada.

Eh, balik lagi ke dua kata favorit saya. Mau tahu apa? Boleh disebarin kok ke yang lain. Adalah..


Menyenangi takdir! :D

Total Pageviews

Tentang Saya

My photo
Yogyakarta, Sleman, Indonesia
Seperti mentari yang merona-rona. Mungkin itu alasan sekaligus harapan orang tua saya memberi nama Rona Mentari. Saya adalah juru dongeng keliling. Storytelling Activist. Dongeng menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan saya. Salam kenal! Mari bersilaturahim juga via instagram di @mentarirona

Tentang Blog Ini

Blog ini adalah catatan tulisan berdasarkan pengalaman, cerita, karya, dan berbagai cerita penulis - Rona Mentari. Kadang juga berisi celotehan kekesalan berbentuk puisi atau sekedar kegundahan tentang sekitar.

Popular Posts

Powered by Blogger.

Followers