Rona Mentari

tell a story, reap a wisdom

"Ambilkan Bulan Bu.."



Soekarno pernah berkata “berikan aku sepuluh pemuda, maka aku mengguncang dunia!”
Hatta pun berpesan “Hanya ada satu negara, negara itu tumbuh dari perbuatan, dan perbuatan itu perbuatanku”
Dan banyak lagi, kalimat indah yang membakar energiku untuk berjuang menjadi seorang yang disebut-sebut sebagai aktivis!

Darah mudaku mengalir
Aktivitasku padat
Bahkan untuk menyapaNya pun aku tak sempat
Bergerak ku ke berbagai tempat
Menjunjung tinggi itu yang disebut amanat
Amanat rakyat

#... ibu memanggilku? #... aku lelah bu, hari ini tugasku menjadi konseptor acara, aku ingin tidur...
# Apalagi bu?..

Sampai aku lupa ada dia yang tiap saat mendoakan untuk suksesku
Mengharap ceritaku
Dan menanti kehadiranku

#... Ibu, kenapa engkau bersedih? #... Iya, sudah lama ya bu tidak berbincang seperti ini #.. Apa? Ibu ingin mendengarku menyanyi? #.. baiklah.. lagu yang selalu aku nyanyikan dulu ya bu...

Ambilkan bulan bu, ambilkan bulan bu, yang slalu bersinar di langit..
Di langit bulan benderang.. cahayanya sampai ke bintang..
Ambilkan bulan bu, untuk menerangi.. tidurku yang lelap di malam gelap..

(ibu memberikan tulisan untuk dibacakan)
Untuk anakku tersayang,
Nak, ingatkah kau lagu ini?
Dulu engkau selalu meminta ibu untuk meraih bulan
Kini, saat engkau telah meraih sedikit cahaya bulan
Kenapa ibu jadi sulit meraihmu?

                                                      Peluk sayang, Ibu

(dibacakan saat malam "aksara kala purnama")

Sajak Sebuah Nasihat



Aku kelu dalam kalimat akhirat
Seperti putri malu dalam sentuhan
Lemah aku sekali saja
Cermin cermin asa memantulkan lagi
Sebuah senyuman resah nan menarik

Pikul ini tak ringan
Letupan mata rasanya tak sirat
Tapi inilah tingkatannya
Saat melempar bumerang sendiri
Tapi
Aku tahu Allah tak salah pilih

Saat ijabah doa dijawab nyata
Malu didepan mereka
Adalah cambuk kapas yang indah
Yang sentuhannya mampu menyalakan tiap sendi
Menguatkan tiap iman
Membesarkan tiap hati
Mencederai tiap syetan
Dan
Membersihkan tiap yang kotor

Dalam toharoh ini, aku berjuang

#2011

Negeri Dongeng: Bromo



Bismillahhirrahmannirrahim..

Sahabat, Bromo adalah tujuan akhir dari perjalanan kami saat itu. Ini dia ulasannya.
Setelah menempuh perjalanan darat dari Malang ke Probolinggo, dilanjutkan naik travel alias bison ke Bromo, sampailah kami di kawasan Suku Tengger itu. Suhu nya dingin luar biasa! Sekitar 7 derajat. Karena sampai malam hari, kami langsung mencari tempat menginap. Bersama rombongan lain, kami menyewa satu rumah penduduk. Alhamdulillah.

Esok pagi, jam setengah 4 shubuh, kami sudah harus bersiap-siap. Jeep yang kami sewa sudah siap untuk memberangkatkan kami ke penanjakan. Tempat dimana kami bisa melihat Semeru dan Bromo saat matahari terbit. Kali ini lebih dingin, baju pun berlapis-lapis. Perjalanan sekitar 30 menit dengan Jeep hingga sampai di tempat tujuan pertama. Ada juga yang jalan kaki. Hebat! Mengingat kabut, gelap, angin, dan dinginnya udara luar.



Sampai sana matahari belum menyapa. Alhamdulillah kami tidak terlambat, dan waw! Sudah banyak turis disana, menunggu datangnya Sang Mentari. Kalau dilihat dari jumlahnya, jumlah turis asing lebih banyak dari pada turis lokal. Katanya, memang saat kami datang adalah high season nya untuk turis asing. Kami menunggu beberapa saat, masih gelap, mencari tempat terbaik untuk menikmati pertunjukan alam ini. Dan malu-malu, matahari mulai muncul, menyapa kami, ramah dan hangat.

Awalnya, muncul cahaya kebiruan yang diikuti warna oren terang. Gradasi lukisan alam yang indah. Masyaallah. Matahari memang belum tampak, tapi ia pamer dulu dengan sinarnya. Membuat kami makin tak sabar. Pohon, menara-menara pemancar terlihat seperti siluet dari balik cahaya gradasi itu. Turis asing tak segan merekam tiap perubahan cahayanya. Dan puncak-puncak gunung mulai terlihat, Allahuakbar. Cahaya mulai menerangi pagi ini. Beberapa turis bertepuk tangan melihat keindahan alam yang luar biasa ini. Matahari kali ini menyapa, lebih dekat, menghangatkan. Puncak Gunung Semeru dan Bromo memamerkan kegagahannya. Dan kami pun seperti sedang berada diatas awan. Bahkan lebih tinggi dari gunung-gunung itu. Tapi tidak lebih tinggi dari mimpi-mimpi kami tentunya.




Setelah cukup menikmati munculnya matahari dan pagi mulai terang, kami menuju ke Gunung Bromo. Jeep di parkir ditempatnya, dan kami harus berjalan menuju puncak bromo. Jaraknya cukup jauh, ditambah berat karena kita berjalan diatas pasir, tapi pemandangan di depan mata membayar lunas semua keletihan itu. Puncak Bromo sudah semakin dekat. Dan penawar jasa sewa kuda telah beberapa kali menawarkan jasanya. Dari harga 75 ribu sampai 10 ribu, karena puncak Bromo sudah semakin dekat. Tapi kami menolak, tubuh kami masih cukup kuat. Sampai di anak tangga. Ini adalah pendakian terakhir sebelum sampai di puncak Bromonya. Sudah ada anak tangga disana. Ratusan anak tangga kami daki, lebih berat karena kemiringannya pun makin besar. Beberapa kali menepi istirahat. Hingga sampailah kami di puncak Bromo, bahkan kami bisa melihat dengan jelas kawah Bromo nya. Saya jadi ingat sebuah quotes dari Dag Hammarskjold, jangan mengukur tinggi sebuah gunung sebelum kamu mencapainya, karena ketika nanti kamu telah mencapainya, kamu akan berpikir betapa rendahnya gunung itu.

Saya segera mencari posisi nyaman. Duduk di pinggir kawah, menikmati keberhasilan kecil ini. Melihat kawah Bromo yang menganga lebar, pemandangan yang masyaallah indahnya, dan melepas lelah yang menjalar. Subhanallah.. walhamdulillah.. walaailahailaallahu allahuakbar..

.................
.................
.................



Saatnya kami turun. Kali ini lebih cepat dari pada saat mendaki, jelas. Menuju ke jeep lagi, melanjutkan perjalanan selanjutnya. Ke tujuan terakhir di bukit savana, atau orang biasa menyebutnya dengan bukit teletubbies. Melewati hamparan pasir, anyelir, alang-alang, hingga sampailah kami ditempat ini. Pegunungan hijau menghampar luas. Benar saja kalau orang-orang bilang bukit teletubbies. Dan masyaallah indahnya. Langit bersih yang biru terang dengan awan-awan putihnya. Seandainya punya rumah di kawasan seperti ini. :D
 
 


Dan inilah penghujung perjalanan kami di tempat indah, Bromo. Alamnya terukir seperti dalam kisah di dongeng-dongeng. Indah. Kami pun menyebutnya, Negeri Dongeng, Bromo.

Alhamdulillah

Catatan Perjalanan: Batu



Hari selanjutnya kami menuju Batu dan malam itu berniat menginap disana. Yang pertama kami lakukan adalah cari tempat menginap. Sudah ada beberapa list di agenda kami. Tapi ternyata tidak kami temukan, ada lagi yang lain, tapi terlalu mahal. Hingga saat kami jalan di kawasan BNS bertiga, dengan tas-tas besar, seorang ibu memanggil kami. “Mau cari penginapan mbak?”, katanya. Kami saling melihat, kemudian menganggukkan kepala. Ibu-ibu pemilik warung itu ternyata menawarkan kamar di rumah anaknya untuk kami menginap. Dan setelah melihat ke beberapa rumah anaknya *maklum, anak nya ada banyak*. Pilihan kami jatuh kepada rumah terakhir yang ia tawarkan. Dengan ukuran kamar yang besar dan extra bed dibawah. Bersih! Lengkap dengan kamar mandi yang besar dan bersih pula. Deal! Alhamdulillah.

 





Setelah istirahat beberapa saat, langsung saja kami menuju ke agro wisata apel. Belum ke Batu kalo belum datang ke tempat ini. Kami tour keliling kebun ditemani tour guide kami. Sayangnya, buah apel sedang tidak berbuah. Tapi tak apa, kami masih bisa menikmati kripik apelnya. Dan memetik buah strawberry serta jambu. Menikmati secangkir kopi susu di tengah perjalanan dan diakhiri dengan puding apel dan segarnya jus jambu sambil melihat pemandangan kota Malang dari ketinggian. Masyaallah indahnya.
 
Kami pun kembali ke tempat menginap. Di tengah jalan kami melihat anak-anak kecil berbaju muslim jalan bersama orang tuanya. Kami yakin, pasti menuju masjid. Setelah meletakkan barang-barang. Kami bertiga sepakat untuk sholat di Masjid dimana anak-anak ber TPA dan kalo ada kesempatan, mengajar disana, barang sebentar saja. Haha. Itu harapan kami. Sampai di Masjid, tidak seperti yang kami bayangkan, karena masjidnya belum jadi benar. Setelah wudhlu, kami sholat di dalam. Sedang anak-anak TPA, belajar di serambi. Ternyata, kami tidak berkesempatakan untuk ‘bermain’ bersama anak-anak disana. Tak apa, setidaknya kami bertemu mereka :)

Malamnya kami menuju ke Batu Night Spectacular. Cerita teman menstimulus saya untuk datang kesana. Dan memang sangat dekat dengan tempat kami menginap. Hanya dibutuhkan 3-4 menit jalan kaki. BNS adalah tempat wisata yang menyajikan permainan dan wahana-wahana yang buka pada malam hari. Mengandalkan kemeriahan lampu-lampu. Dan tiap jam tertentu terdapat pertunjukan yang baru saya lihat di Indonesia. Pertunjukan lampu dengan laser yang kemana-mana arahnya dengan air yang dibuat terkesan ‘menari’. Diawali dengan tarian tradisional jawa timuran dan Bali. Di tengah-tengah pertunjukan kita disuguhi semacam film tentang terbangnya roket ke angkasa. Film itu ada di langit-langit hall. Kita diajak seperti terbang ke ruang angkasa. Sekali lagi, yang ini baru pertama kali saya liat di Indonesia. Ada juga arena gokart disana. Saya tertarik untuk bergabung. Bersama kakak saya yang kedua, kami balap gokart. Bertanding bersama pengunjung lainnya dari luar kota. Dan, saya berkesempatan memegang trophy juara pertama dan berdiri diatas podium nya. hehe. :D
 
Esoknya kami menuju ke Selecta, taman bunga. Sambil membawa seluruh barang bawaan kami. Karena setelah itu berencana langsung menuju ke Bromo. Selecta adalah taman bunga yang sudah ada sejak jaman Belanda. Bunganya warna warni dan indah. Seperti sedang berada di New Zealand atau Belanda. Tapi tidak, kami bangga sedang berada di Indonesia :D

"Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?" (QS Arrahman)

Total Pageviews

Tentang Saya

My photo
Yogyakarta, Sleman, Indonesia
Seperti mentari yang merona-rona. Mungkin itu alasan sekaligus harapan orang tua saya memberi nama Rona Mentari. Saya adalah juru dongeng keliling. Storytelling Activist. Dongeng menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan saya. Salam kenal! Mari bersilaturahim juga via instagram di @mentarirona

Tentang Blog Ini

Blog ini adalah catatan tulisan berdasarkan pengalaman, cerita, karya, dan berbagai cerita penulis - Rona Mentari. Kadang juga berisi celotehan kekesalan berbentuk puisi atau sekedar kegundahan tentang sekitar.

Popular Posts

Powered by Blogger.

Followers