Rona Mentari

tell a story, reap a wisdom

Ujian itu Indah

Pengalaman ini berlangsung saat bulan puasa 1432 H, Agustus 2011. Seperti biasa, jadwal untuk safari mendongeng maupun thausiyah sudah terjadwal. Salah satunya di Mall Pejanten Village, Jaksel. Karena posisi saya di Jogja, jadi harus pergi ke jakarta dulu, sendirian! Ya untuk pertama kalinya pergi ke acara seperti ini sendiri. Tanpa ada yang mendampingi. Tapi tak apalah, ini perjuangan, pikirku.
Jam menunjukkan pukul tiga sore saat aku baru selesai ambil wudhlu, bersiap untuk sholat ashar. Aku memang sudah bersiap-siap sejak tadi. Kostum, gitar, semua aku persiapkan sendiri dari asrama. Lalu kutelfon operator pesan taksi langganan. Saat itu pukul setengah empat sore. Cukup lama taksi itu muncul, sampai saya harus melewatkan dua taksi yang lewat didepan gang. Hingga akhirnya taksi pesanan itu muncul juga. “Pejaten Village pak..,”kataku. Jarak asrama ke Penvil memang tidak terlalu jauh, jadi aku santai saja. Tapi tunggu dulu, ini Jakarta bos! Jarak 50 meter aja kalo macet bisa satu jam!



Ternyata luar biasa! Ini benar benar macet se macet macetnya. Nglewatin satu gedung aja susahnya bukan main. Sedangkan paling tidak aku sudah harus di lokasi jam setengah 5 sore. Sopir taksi itu mengantarku melalui jalan yang tidak biasa. Aku memang belum paham benar jalan jalan di Jakarta. Tapi aku berpikir positif saja dengan, mungkin, sopir taksi ini mencarikan jalan pintas agar lebih cepat. Sampai aku harus memastikan dua kali “Pejanten village kan ya pak?”, “Iya neng”, jawabnya mantap.

Tiba-tiba taksi memasuki sebuah lobbi yang aku tidak asing. Jam menunjukkan pukul 5 sore. Sudah diluar targetku sebenarnya. Tapi ini bukan PENVILL yang kumaksud. Ini Pacific place! “Sudah sampai neng”, kata si sopir dengan tenangnya. “Pak? Ini kan pacific place?? Bukan pejaten village??” . “Ya ampunnn iya mbak! Saya salahhhh, aduhh maaf2, saya lagi error!”

Taksi melaju lagi. Masyaallah! Sekarang sudah jam berapa? Dan berapa orang yang sudah menunggu saya di pejaten village?? Saya berusaha sabar, saya pikir jarak pacific place ke pejaten village tidak jauh jauh amat. Tapi saya salah! Macet pula. Jantung saya berdebar kencang. HP saya berbunyi, panitia mengatakan sudah menunggu kedatangan saya sejak tadi. Ya Allah, apa salah kuu. Sungguh saat-saat yang tidak ingin saya lalui. Akhirnya setelah berpikir sebentar, saya memutuskan untuk keluar taksi dan naik ojek terdekat. Saya pun turun taksi. Pak Taksi ternyata tidak mau dibayar. Argo yang sudah 45 ribu lebih ternyata tidak mengubah niat baik pak sopir, ia merasa bersalah. Saya berikan 10 ribu sekedar untuk beli minum, ia tetap menolaknya. Yasudahh.

Segera saya naik ojek dengan memangku gitar dengan hardcase yang tidaklah ringan. HP di genggaman terus saya pegang. Saya kontak2an dengan panitia. Saya benar2 takut saat itu. Takut mengecewakan banyak orang. Takut semua perjuangan saya dari jogja ke jakarta sia sia hanya karena masalah ini. Takut saya dibenci banyak orang. Takut sekali.

Saya terus menghubungi panitia. Diatas motor tukang ojek, saya menjelaskan sejujur2nya apa yang terjadi. Jam menunjukkan pukul setengah enam sore. Dan peserta buka bersama telah bersiap untuk ambil wudhlu pada jam ini. Aku pun memberi tawaran kepada panitia untuk merubah jadwal tampil ku setelah maghrib, sehingga waktu lebih leluasa. Aku berusaha meyakinkan panitia. Tak sadar mataku panas, air mata menetes. Sungguh manusia lemah sekali atas segala kekuasaan Allah.
Ojek yang membawaku berkali2 aku ingatkan untuk lebih cepat. Alhamdulillah, sampailah aku di penvil. Pada pukul enam kurang 10 menit. Sedangkan buka puasa di Jakarta jam enam kurang tiga menit.

Aku turun dari ojek, lari-lari ke arah lobbi. Ibu Har, perantara yang mengundangku segera menjemput dan mengantarku ke lantai 3. Anak2 sudah berkumpul.Aku sungguh merasa amat bersalah. Aku minta maaf pada smua yang kutemui disana. Dan alhamdulillah, panitia mengubah jadwalku menjadi setelah maghrib. Setelah sholat

maghrib, aku bersiap mendongeng. Syukurlah, acara hari itu sukses dengan antusiasme anak2 yang luar biasa. Ini memang indah di saat terakhir. Dan pengalaman ini sungguh menguji saya. Terimakasih Ya Rabb.

6 komentar:

EAS September 16, 2011 at 9:53 AM  

wowwww. ron, amazing..
everything's happen for a reason deh hwhw
jkt jkt, jogja macet di daerah ringroad kl jam pulang kantor aja udh stress aku

ronamentari September 19, 2011 at 7:09 PM  

@EAS: iya sar.. walopun skrg rada2 trauma jg sama macet. wkakak lebay. Jogjaa jgn sampe macettt dehhh naudzu billahhh

Luxhard September 22, 2011 at 8:51 AM  

bingung saya kalah melulu sama orang lain, mbaron sibuk membenahi dunia

Yoedhis September 23, 2011 at 3:21 AM  

wah wah, untung aja panitianya mau ngrubah jadwalnya ya ron, kalo di jogja sih alhamdulillah semacet"nya paling cuma 15 menitan kalo di perempatan jakal

DONdikr September 26, 2011 at 5:57 PM  

hahahaha... yah, lumayan kan Ron, jadi maskeran beberapa menit. Bagus mengurangi beberapa kerutan. :P

ronamentari September 30, 2011 at 8:32 AM  

@zoromalikk: ahh rendah hatii ajaa nih malikk. lihat tuhh prestasimu dengan sepeda yang menemani. INSPIRING tauu.. ;)

@yudhis: iyaa. jgn sampeee jogja macet deh dhiss

@kakdondik: ini salah tempat ya komennya? mksdnya maskeran sama polusi apa telur? wkakak

Total Pageviews

Tentang Saya

My photo
Yogyakarta, Sleman, Indonesia
Seperti mentari yang merona-rona. Mungkin itu alasan sekaligus harapan orang tua saya memberi nama Rona Mentari. Saya adalah juru dongeng keliling. Storytelling Activist. Dongeng menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan saya. Salam kenal! Mari bersilaturahim juga via instagram di @mentarirona

Tentang Blog Ini

Blog ini adalah catatan tulisan berdasarkan pengalaman, cerita, karya, dan berbagai cerita penulis - Rona Mentari. Kadang juga berisi celotehan kekesalan berbentuk puisi atau sekedar kegundahan tentang sekitar.

Popular Posts

Powered by Blogger.

Followers