Rona Mentari

tell a story, reap a wisdom

Bermanja Manja dalam Angan

lembut telapaknya membelai tubuhku
indah senyumnya menghipnotis jiwa
aku terbuai dalam angan asa
bermanja-manja dalam dekapnya

kami bercengkrama saling berbagi, sepi
dengan kain ihram putih itu, kesucian cinta

memang tak jelas, tapi begitu nyata
sesuatu yang sering aku lewati di lampau
saat yang mustahil aku sentuh kini

di 8117 Moven Pick, Madinah
Nabawi menjadi saksi, lewat ijinNya
atas mimpiku siang ini bersamamu malaikatku, Mama

Dalam bis Maimi Tahiti.city tour

Masjidil Haram dalam Kata

Al-Haram

Kutub magnet yang semakin kuat
Menarikku pasti ke sebuah pusat
Detak jantung bergemuruh hebat sembari itu
Getaran yang entah, tenang saja hinggap

Allahummaftahlii abwaaba rohmatiq
Mataku kaku dalam sebuah objek
Bercahaya kilauan pantul mentari
Semesta bertasbih


Baitullah disisiku kini
Nikmat yang sungguh tak biasa
Bismillahiallahuakbar
Rotasi towaf yang tujuh ini
Tak terasa singkatnya
Melebur dalam kesamaan asa
Subhanallah walhamdulillah walaillahailallahuallahuakbar

Segala puji bagiMu Ya Allah
Tuhan semesta alam

Solocamp: Tidur Sendiri di tengah Hutan!

Assalamualaikumm!

Pengalaman ini berlangsung saat rangkaian Paramadina Leadership Camp 2011. Sebuah kegiatan wajib bagi mahasiswa tingkat pertama Universitas Paramadina. Sebenernya ada banyak rangkaian kegiatan yang dilakukan, tapi satu ini yang menurut saya UNFORGETTABLE!
SOLOCAMP! Itulah namanya. Solo: sendiri. Camp: Kemah. Yang berarti kita kemah di hutan SENDIRIAN! Waw. Begini ceritanya.
Jam menunjukkan pukul 12 malam saat kami baru saja selesai merenung. Memandang ke atas melihat bulan yang malu-malu menyapa. Tapi terang bulan malam itu cukup untuk menerangi hati kami yang muram kelelahan. *hhaha cukup cukup
Oke lanjut, satu per satu dari kami dibekali : Garam 1 plastik kecil, Lilin 1 batang, Permen 2 biji, korek api 1 kotak, tali rafia 3 meter.
Awalnya kami jalan bersama menyusuri hutan. Tengah malam! Lalu satu per satu fasilitator mengarahkan kami satu per satu ke tempat masing-masing. Jarak antara 1 orang ke orang lainnya sekitar 30 meteran. Tapi itupun tidak begitu berpengaruh dengan interaksi kita, karena minimnya cahaya, kita nggak tahu siapa yang ada paling dekat dengan kita.
Karena nggak bawa senter, saya hanya mengandalkan nyala 1 batang lilin itu. Pertama saya berencana menyalakan api yang agak besar. Selain untuk menjaga penerangan biar lama juga untuk penghangat. Tapi karena lembab dan tidak membawa parfum *bisa untuk nyalain api alkoholnya* alhasil saya putuskan untuk hanya mengandalkan nyala 1 lilin saja. Lilin saya dirikan diantara tumpukan kayu-kayu kecil. Lalu Si Bolang pun mulai beraksi!
Saya membagi rafia menjadi 2. Jadi tali rafia yang awalnya 3 meter bisa jadi 6 meter. Ditambah 2 meter tali rafia yang sengaja saya simpan dari jatah makanan siang tadi. *hhehe* Tali Rafia kemudian saya kaitkan dengan pohon dan di patok dengan kayu seadanya di dataran yang lebih tinggi. Lalu satu sisi lagi sama. Tapi ups! Tali rafianya putus! Ah, mungkin karena saya terlalu tipis membaginya. Lilin mulai habis. Saya pun berusaha memasang lagi dan jadilah kerangka segitiga. Ponco hujan yang berbentuk segi empat pun saya taruh di atas kerangka tali itu. Terbentuklah atap seadanya. Karena tidak ada senter, sangat susah sekali untuk mengambil kembali barang yang terjatuh. Seperti korek api, lilin. Padahal mungkin itu berada didekat kita. hhaha
Kemudian matras saya letakkan di bawah atap ponco. Sekelilingnya saya tebarkan garam. Lalu permen yang sudah saya basahi dengan ludah sebelumnya biar manisnya keluar. Garam pasti sudah tahu gunanya. Sedangkan permen berguna untuk mengalihkan perhatian para SEMUT agar tidak menuju ke arah kita. Tetapi ke arah permen itu.
Diatas mastras saya menggelar sleeping bag. Sepertinya semua sudah siap. Lilin hanya tinggal 1-2 cm lagi. Saya pun menutup kepala dengan surban lalu masuk ke sleeping bag. Dan saya tutup sampai leher. Hangaat... Saya pun berdoa kepada Allah atas nikmat tidur di alam terbuka ini, berdoa untuk kedua orang tua, dan doa mau tidur. Saya pun berdzikir sambil memejamkan mata dan tertidur sebelum lilin habis.
Bisa kita pasti bisa kita kan terus berusaha!!
“Bangun.. bangunn... ayo bangun, semuanya udah bangun, siap siap turun.. kemasi semua barang-barang” seru fasilitator membangunkan tidur nyenyak saya sepanjang sejarah tidur saya di PLC.. 

Salam Indonesia! Wassalamualiakum!

Total Pageviews

Tentang Saya

My photo
Yogyakarta, Sleman, Indonesia
Seperti mentari yang merona-rona. Mungkin itu alasan sekaligus harapan orang tua saya memberi nama Rona Mentari. Saya adalah juru dongeng. Beraktivitas di dunia ini sejak tahun 2000. Dongeng menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan saya. Salam kenal! Mari bersilaturahim juga via instagram di @mentarirona

Tentang Blog Ini

Blog ini adalah catatan tulisan berdasarkan pengalaman, cerita, karya, dan berbagai cerita penulis - Rona Mentari. Kadang juga berisi celotehan kekesalan berbentuk puisi atau sekedar kegundahan tentang sekitar.

Popular Posts

Powered by Blogger.
There was an error in this gadget

Followers