Rona Mentari

tell a story, reap a wisdom

Ngenalin Trimbil di Sydney


(Mendongeng di Australia bag 3)

Saat itu seluruh storytellers dibagi ke beberapa kelas sesuai minat. Saya memilih salah satu kelas yang saat itu dimulai dengan meminta seluruh peserta memikirkan satu tokoh dalam dongeng. Yak! Baru masuk udah diminta presentasi satu-satu. Mulai deh deg-degan. Tokoh yang pertama kali terbersit di pikiran dan ngga pergi-pergi adalah si Trimbil. Tokoh dongeng saya yang sudah melegenda. Melegenda di pikiran saya sendiri, hahaha.

Karena kebetulan saat itu satu kelas dengan Simon si kartunis yang keren, saya jadi dapet ide! Yaitu menjelaskan tokoh dengan gambar. Lumayan bisa membantu, pikir saya. Tapi jangan dibandingkan gambar saya dengan Simon si kartunis, tentu bagai pinang dibelah dua, tapi yang satu dimakan Codot. Nggakpapa, setidaknya saya masih punya sisa-sisa ilmu menggambar yang diajarkan guru gambar saya saat masih SD.

Tibalah giliran saya. Saya minta ijin kedepan untuk menggambar di flipchart. Sekitar 30 detik berlalu dan jeng-jeng-jeng. Inilah gambar saya tentang sosok Trimbil. Saya menjelaskan sedikit detail-detail tentang Trimbil. Seperti kegundulannya, sarung yang selalu dia pakai, dan kakinya yang selalu dihiasi sendal jepit. Cringgg..! *Lah kok mirip Upin Ipin? XD

Semua orang mengangguk-angguk lalu bertepuk tangan. Dan saya pun berhasil memperkenalkan Trimbil di Sydney. Trimbil selamat ya...!  


suasana kelas (2)

Suasana kelas (2). Kalau jeli, gambar Trimbil ada di flipchart yang kecil.

Kurang jelas? Ini lebih dekat. Plis jangan diketawain. Plis!

- Rona

Apakah Kartini Jatuh Cinta?

Kemarin saat melakukan perjalanan untuk menghadiri pernikahan teman di Jepara dan Rembang, kami nyempetin mampir ke museum kartini di Rembang. Kapan lagi menyelami sosok Kartini lebih jauh di tempat dimana ia memperjuangkan pendidikan untuk kaum perempuan saat itu. Museum ini dulunya rumah Bupati Rembang, yang juga suami RA Kartini.

Kami membayar 2000 rupiah per orang untuk bisa masuk ke kawasan museum. Murah, seneng dong. Tapi jangan terlalu berekspektasi tinggi dengan kondisi museum yang dikelola pemerintah. Museum ini terletak satu lokasi dengan kantor pemerintahan di rembang. Saat saya datang. Ada banyak pengunjung lain. Maklum, hari itu hari libur dan masih dekat dengan tanggal 21 April. Soal 21 April ini, hampir semua kantor yang saya lihat di Rembang memasang spanduk besar-besar di depan kantornya terkait semangat Kartini.

Oke, kembali ke museum. Walaupun kita tahu bagaimana rata-rata kondisi museum di daerah yang dikelola pemerintah, tapi jangan khawatir soal keotentikan koleksi. Saya berdecak kagum dengan berbagai perabot yang digunakan RA Kartini jaman itu. Bisa dibilang sangat mewah. Tentu hal yang wajar mengingat sang suami adalah bupati yang terkenal kaya raya. Eits, tapi RA Kartini bukan menikah karena harta. Sepertinya mustahil jika sosok Kartini yang kita kenal menikah karena alasan harta. Kartini menikah karena diminta oleh orangtuanya.

Apakah Kartini pernah jatuh cinta?

Itu pertanyaan yang terngiang-ngiang terus dalam pikiran saya. Jika ia menikah karena disuruh, lalu dimana jatuh cintanya? Eh tunggu, bisa jadi Kartini jatuh cinta setelah menikah. Seperti kata Ustadz, jatuh cinta yang sesungguhnya adalah yang setelah menikah. Jatuh cinta setelah menikah itu insyaallah karena Allah. Loh kok malah bahas ini?

Tapi coba, kalau alasan menikahnya karena ketaatan Kartini kepada orang tuanya, maka luar biasa cinta Kartini kepada orangtuanya. Ridho Allah kan ada di ridho orang tua. Keren Kartini.
Hingga dalam salah satu ruangan di Museum Kartini, ada sebuah tulisan Kartini tentang ini.


Ini tulisan Kartini yang saya baca secara gamblang bicara cinta pertama kali. Ia mengatakan, dirinya tak bicara tentang cinta antara pria dan wanita. Menurutnya itu soal yang rumit dan ia tak punya pendapat tentang itu. Ah Kartini, cintamu terhadap kaummu, bangsamu, dan penciptamu telah menyebarkan banyak cinta ke pelosok negeri ini. Dan itu lebih berarti.

Kembali ke sosok Kartini. Menurut saya, sosok yang punya andil besar dalam memasyarakatkan surat dan pemikiran Kartini adalah Ny. Abendanon. Teman korespondensi Kartini di Belanda. Surat-surat kepada Ny. Abendanon lah yang secara rapi tersimpan dan terdata hingga terpublikasi dalam sebuah buku. Dan tentu, karena Kartini menulis. Tulisan itu menjadi bukti otentik atas pemikirannya. Walaupun, ada juga kontroversi yang mempertanyakan keabsahan surat-surat Kartini. Ah, bagaimanapun keadaannya pasti selalu ada pro dan kontra.

Lebih dari itu, saya pribadi mengagumi Kartini. Harum namamu hingga kini. Semoga sampai pula pesan dan semagatmu kepada kami, kaummu.

Oh iya. Saat keluar museum. Petugas meminta kami menuliskan pesan dan kesan. Saya menuliskannya panjang lebar, salah satunya “Tim Museum Kartini coba studi banding ke Museum Ulen Sentalu di Jogja. Belajarlah dari mereka.”


Dongeng Dari Timur

Dongeng Dari Timur adalah sebuah projek yang bertujuan untuk menanamkan nilai anti korupsi sejak dini melalui dongeng.

Projek ini adalah kolaborasi saya dengan Maxima Indonesia dan teman-teman kolaborator lainnya seperti Forum Indonesia Muda, Angkatan Perubahan, dan tidak menutup kemungkinan dengan teman-teman komunitas lainnya, kami terbuka.

"Nggak usah ngomongin anti korupsi deh, nanti banyak musuhnya" kata seseorang kepada kami saat memaparkan projek ini. 

Ya, projek ini dimulai April lalu, itu pun sambil memanfaatkan projek lain Maxima Indonesia di NTT. Antusiasmenya luar biasa. Saya menangis melihat binar kanak-kanak di Kupang saat itu. Bukan hanya anak-anak, para pendidik yang hadir dalam Kelas Mendongeng juga begitu antusias. Bahkan mereka menindaklanjuti dengan membuat sebuah Komunitas Badongeng NTT. 

Tapi antusiasme mereka ternyata belum sama dengan antusiasme donor. Sampai saat ini kami masih berjuang mendapatkan donor untuk projek ini. Semoga satu titik awal di Kupang ini bisa dilengkapi dengan 9 titik lain di timur Indonesia. Projek ini terbuka untuk kolaborasi. Teman-teman di timur Indonesia silahkan mengajukan daerahnya melalui kontak di video kedua dibawah ini.

Tentang mengapa dongeng, mengapa anti korupsi, dan mengapa timur saya jelaskan di video pertama yang dibuat oleh teman-teman penggerak di NTT melalui NTTalks dibawah ini.






Berangkat Sendiri


Mendongeng di Sydney (bag 3)


Beruntung! Walaupun akhirnya saya berangkat sendiri, ada teman baik yang sudah menunggu dan siap untuk direpotin di Sydney. Septa namanya, temen dari SMA yang pas banget lagi kuliah di Sydney. Setidaknya, Septa yang akan menuntun jalan saya yang nggak tau apa-apa soal Sydney. Sekaligus bisa numpang nginep di flat nya. 

Saya sendirian dalam perjalanan ke Sydney, dianter Bunda Tatty Elmir saat itu ke bandara Jakarta. Bunda juga bantu menyiapkan beberapa hal terkait pakaian, makanan, dan wejangan-wejangan buat anak ketemu gedenya ini yang belum pernah jalan sendirian ke luar negeri.
Perjalanan lancar saja. Sok tenang walaupun sebenernya ketar-ketir. Transit bentar di KL terus lanjut direct flight ke Sydney. Perjalanan lumayan ngebosenin karena pake maskapai low cost tanpa hiburan di kursi. Tapi nggak papa. I’m on my way to tell a stories in Sydney! There is nothing more amazing than this! 
 
Perjalanan lancar saja. Mulai ketar ketir lagi saat sampai bandara Sydney, ada anjing pelacak lah, security check super ketat lah, sampai kekhawatiran ngga langsung nemu Septa nanti di Bandara. Tapi kekhawatirannya ndak lama, setelah lolos dari anjing pelacak. Septa sudah stand by di pintu keluar. Dan yeay! Kami heboh bertemu di bandara.

Alhamdulillah! Dimulailah petualangan kami di Sydney. 


Septa sudah menyiapkan kartu multitrip untuk semua angkutan umum massal yang akan saya pakai selama di Sydney. Jadi langsung naik bis deh ke arah flat nya di Randwick. Randwick ini ternyata terkenal sama horse racing nya. Sayang nggak sempet liat pertandingannya selama disana :(

Sampai di flat Septa, saya mengeluarkan bekal terberat *seriusan berat*. Apa itu? Koin dollar! Berapa jumlahnya? 400 dollar! Haha, jadi salah satu saudara saya memberi bekal uang 400 AUD tapi dalam bentuk koin. Septa sampai geleng-geleng kepala. Tapi jangan khawatir, tetap berlaku disana.

"Kita ke bank habis ini, kita tuker pake uang kertas aja", kata Septa.

Setelah kita hitung manual di rumah, dibawalah koin-koin itu ke bank. Ada mesin otomatis yang menghitung. Kita tinggal masukin aja ke mesinnya dan biarkan mesinnya memakan koin-koin kita. Keluar deh jumlahnya dalam bentuk kertas. Baru kita tukarkan di teller.

"darimana kalian dapat koin sebanyak ini?", kata teller nya keheranan.
"hadiah dari saudara", kata kami sambil tertawa. 

Yeay alhamdulillah, pulanglah kami dengan tambahan uang di kantong.

Pak..

Pak, dulu saya ingin kuliah di Paramadina karena pendirinya adalah Cak Nur. Ditambah karena Paramadina adalah kampusnya Zaskiya Adya Mecca *wkwk*. Bukan karena bapak. Tapi semakin kesini saya juga bangga mengenalkan diri sebagai alumni kampus yang pernah bapak pimpin.

Saat dimana sangat mungkin ketemu bapak di lorong-lorong kampus dan ngobrol barang sebentar. Saya bangga, pernah jadi bagian dari program beasiswa yang dicetus saat bapak memimpin kampus ini. Membuka kesempatan orang-orang seperti saya berkuliah di ibu kota. Lalu bisa belajar banyak dari daerah yang perputaran uangnya 70% dari seluruh perputaran uang di Indonesia. Iya, ibu kota punya kita semua.


Pak Anies, semoga bapak bisa selalu menepati janji, apapun janji itu. Entah bapak terpilih atau tidak. Seperti saat bapak menepati janji untuk menjadi saksi nikah pada seorang alumni pengajar muda. Padahal bapak saat itu dapat undangan untuk speech di Eropa. Saya lupa dimana, tapi yang pasti ini acara bergengsi. Tapi bapak menolak. Kenapa? Karena bapak sudah janji sama pengajar muda itu.

Pak Anies, semoga bapak bisa selalu memudahkan dan menolong orang. Entah bapak terpilih atau tidak. Seperti saat bapak rela meminjamkan kartu kredit bapak ke teman-teman UKM Tari Tradisional Universitas Paramadina yang—karena force majeure– harus membeli tiket ke Macau saat itu juga, agar bisa sampai disana tepat waktu. Sederhana ya? Cuma minjemin doang. Tapi coba bayangin gentingnya suasana saat itu dengan 20 orang yang harus tiba segera di Macau untuk misi budaya, tentu nggak sedikit uang yang dibutuhin. Tapi bapak, memutuskan untuk segera bantu, saat salah satu diantara tim menelfon bapak. Iya, hanya dengan telfon.

Pak Anies, semoga bapak tetap selalu jadi Ayah yang baik untuk anak-anak bapak dan kami semua. Entah bapak terpilih atau tidak. Seperti saat saya tidak sengaja bertemu bapak di sebuah toko penyewaan DVD di Jogja. Saat itu bapak menemani si sulung. Bapak ikut turun mengantarkan dan menemani. Tidak hanya di dalam mobil. Saya menyapa bapak dengan penuh keheranan karena tidak menyangka akan bertemu di tempat seperti ini. Dan bapak seperti biasa menyambut sapaan saya dengan menyenangkan.

Pak Anies, apapun hasilnya nanti, tetaplah menjadi Pak Anies yang kita kenal. Tetap menjadi penggerak kebaikan. Tetap jadi inspirator anak muda. Tetap menjadi Pak Anies kita!

Total Pageviews

Tentang Saya

My photo
Yogyakarta, Sleman, Indonesia
Seperti mentari yang merona-rona. Mungkin itu alasan sekaligus harapan orang tua saya memberi nama Rona Mentari. Saya adalah juru dongeng. Beraktivitas di dunia ini sejak tahun 2000. Dongeng menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan saya. Salam kenal! Mari bersilaturahim juga via instagram di @mentarirona

Tentang Blog Ini

Blog ini adalah catatan tulisan berdasarkan pengalaman, cerita, karya, dan berbagai cerita penulis - Rona Mentari. Kadang juga berisi celotehan kekesalan berbentuk puisi atau sekedar kegundahan tentang sekitar.

Popular Posts

Powered by Blogger.
There was an error in this gadget

Followers