Rona Mentari

tell a story, reap a wisdom

Sayembara Pendongeng Cilik


"Mempertahankan #BatikIndonesia di Tanah Mataram"

Kehadiran batik di Yogyakarta seperti nafas yang menghidupi warganya. Dari lahir hingga tutup usia, batik mengiringi hampir di semua tradisi. Kebutuhan yang tinggi atas permintaan batik, menjadikan industri batik di Yogyakarta tidak pernah mati suri. Meskipun digempur kain bermotif batik, nyatanya eksistensi batik tulis tetap tinggi. Berikut adalah catatan hasil pelesiran saya dan kakak, ke museum dan beberapa sentra batik di Yogyakarta dan sekitarnya.

Usaha mempertahankan batik menjadi upaya yang susah payah. Sejak Batik di nobatkan sebagai warisan kekayaan dunia, tahun 2009, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kembali menyelaraskan irama. Kekuatan batik sebagai nilai budaya dan industri dijadikan panutan. Kedua aspek ini pula yang mengantarkan DIY sebagai Kota Batik Dunia.

Tahun 2014, sebutan itu disematkan oleh World Craft Council (WCC). Selain dua aspek di atas, nilai ekonomi dan nilai historis, terdapat lima aspek lainnya. Yaitu orisionalitas, regenerasi batik, ramah lingkungan, reputasi internasional, dan persebaran daerah batiknya.

Mataram Kuno
Kemunculan industri batik di Yogyakarta tidak lepas dari pengaruh Kraton. Pada abad 16, Batik hanya digunakan oleh keluarga dalam kerajaan. Desa Pleret, Bantul disebut sebagai daerah pembatikan pertama. Para wanita abdi dalem diminta nitiki, nyelup, dan nglorot batik. Dulunya, Pleret merupakan cikal bakal Mataram Kuno. Yang menjadi sentra kerajinan pada zamannya. Setelah kraton dipindah, kebiasaan membatik ikut tergerus. Kini, batik khas dari Pleret yang masih eksis adalah Batik Nitik.

Sekitar tahun 1800 an batik mulai digunakan masyarakat di luar kraton, namun masih sangat terbatas. Penggunaannya juga masih berdasarkan kelas sosial. Afif Syakur (50), pengusaha batik Yogya menggambarkan 4 jenis batik pada masa itu. Batik Larangan yang digunakan hanya untuk keluarga Kraton. Batik Saudagaran yang dipakai oleh orang-orang kaya. Batik Asing yang biasa digunakan oleh warga Cina dan Belanda. Terakhir, Batik Rakyat untuk para petani.

Kampung Batik pada masa itu juga mulai menjamur. Terdapat beberapa wilayah, antara lain di Giriloyo, Tamansari, Prawirotaman, dan Tirtodipuran. Hasil produksi batik dari empat wilayah itu kemudian dijual di Pasar Beringharjo. Kala itu, Pasar Beringharjo berfungsi sebagai tempat strategis transaksi dagang. Lokasinya yang tidak jauh Kraton, Stasiun Tugu, dan jalan protokol menjadikan tempat persinggahan para pedagang.

Kini keempat wilayah itu sudah mulai berganti fungsi. Prawirotaman dan Tirodipuran sudah dipenuhi hotel dan penginapan untuk wisatawan. Yang tertinggal hanya bangunan-bangunan tua besar, bekas pembuatan batik. Tamansari masih bertahan meski berjalan pelan karena harus bersaing dengan jenis batik cap dan kain bermotif batik. Lokasinya yang berhimpitan dengan wisata Taman Sari, turut menghidupi para pembatik di wilayah itu.

Seorang pembuat batik tulis di Taman Sari, Sawitri Kartika (58) salah satu pembatik yang masih melestarikan batik tulis. Wanita paruh baya ini meneruskan tradisi membatik dari eyangnya, Atmo Suwanindro. Satu lembar batik tulis menghabiskan waktu hampir 2 bulan. Untuk menghidupi keluarganya, keduanya membuat batik kombinasi. Maklum, tidak sembarang turis yang menginginkan batik tulis.

Bu Sawitri, pembatik asli Tamansari.
Bu Tuti, juga pembatik asli Tamansari.


Berbeda dengan kampung batik yang lain, Giriloyo mampu berdikari hingga saat ini. Meski sempat pasang surut karena bencana gempa, kini mampu bangkit dengan bantuan LSM dan pemerintah. Pembatik Giriloyo, dulunya adalah abdi dalem yang tinggal di sekitar Imogiri untuk menjaga makam raja-raja Kraton. Kebiasaan membatik itu turun temurun ditularkan hingga saat ini.

Batik Giriloyo terkenal kekhasanya dengan tetap mempertahankan pemakaian pewarna alam. Meski mengaku sulit mendapatkan bahan baku pewarna alam, namun kebiasaan itu tetap dilakukan. Hingga kini, Giriloyo kini eksis memasarkan batiknya lewat website.

Para pembatik diayomi dalam paguyuban. Lewat paguyuban Batik Tulis Giriloyo, setiap anggota dapat berbagi keluh kesah dalam produksi dan penjualan batik. Selain itu, pariwisata juga dihidupkan untuk mengundang masyarakat ke kampung batik.

Tahun 1970 an mulai muncul kain bermotif batik atau biasa dikenal batik print. Sedangkan di tahun 1980 an berkembang lukisan batik sebagai turunan batik modern. Setelah itu semakin berkembang seiring kebijakan penggunaan seragam batik.

Nilai Ekonomi Batik

Nilai ekonomi yang dihasilkan produk batik menciptakan banyak bisnis turunannya. Bukan hanya batik tulis, cap, dan kombinasi, namun aksesori berhias batik tumbuh subur. Contohnya tas batik, sepatu/ sandal batik, dan ukiran batik. Salah satunya berasa di Desa Krebet, Bantul yang mengembangkan sentra kerajinan kayu batik.

Menurut data dari Dinas Perindustrian dan Koperasi DI Yogyakarta roda bisnis batik berjalan dengan 715 unit usaha batik pada tahun 2015. Jenis batik yang dihasilkan meliputi batik tulis, cap tulis, cap, lukis, dan kombinasi. Hingga tahun 2015, tenaga kerja yang terserap oleh industri ini menyentuh angka 2.760 pekerja. Selain itu nilai produksi yang dihasilkan mencapai 78 miliar.

Unit usaha batik di Yogyakarta cenderung meningkat. Dari 649 di tahun 2011, menjadi 715 di tahun 2015. Serapan tenaga kerja tersebar di seluruh kota kabupaten. Daerah yang paling padat karya adalah Kabupaten Bantul. Hingga tahun 2015, sebanyak 46 persen pekerja industri batik berasal dari wilayah Projotamansari ini. Sedangkan nilai produksi juga meningkat stabil setiap tahunnya. Hanya satu tempat yang mengalami penurunan nilai produksi, sebanyak 3,8 persen (2015), yaitu Kabupaten Kulonprogo.

Bahan baku pembuatan batik di Yogyakarta, masih didatangkan dari daerah lain bahkan impor. Bahan baku batik tulis salah satunya berasal dari Toko Sidojadi dan Wongin. Keduanya terletak di Kecamatan Ngampilan, Kota Yogyakarta. Kedua tempat ini sudah tersohor.

Alur distribusi batik tergantung dari jenis batiknya. Kalau batik tulis, alur distribusinya semakin pendek, karena konsumen langsung menyasar ke penjualnya. Sedangkan yang berada di pasar dan toko, biasanya banyak batik cap dan kombinasi cap tulis. Secara keseluruhan, alur distribusi batik di Yogyakarta semakin mendekati tempat wisata, alur distribusinya semakin pendek. Hal ini semakin membuktikan bahwa pariwisata pun turut menghidupkan industri batik.

Menghidupkan Batik
Andil masyarakat dalam membumikan batik juga tinggi. Selain anjuran pemakaian seragam batik untuk pegawai negeri sipil dan anak sekolah, masyarakat pun tidak sungkan menggunakan batik dalam berbagai kegiatan formal dan informal. Dinas Pendidikan Yogyakarta menjadikan materi Batik sebagai kurikulum. Yaitu di SMK Negeri 5 Yogyakarta dan SMK Batik Gunung Kidul.

Setiap kota/ kabupaten di Yogyakarta memiliki ciri khas motif batik. Misalnya, Kulonprogo memiliki motif Geblek Renteng, Bantul dengan motif Pandak Asmoro, dan Sleman dengan nama Sinu Parijoto. Keberagaman motif batik itu juga akan menarik minat pembeli batik.
Selain dukungan dari pemerintah, Paguyuban Sekar Jagad di Yogyakarta menaungi lebih dari 300 an pembatik dan pengusaha aktif batik. Kegiatan paguyuban ini antara lain “Kepyakan Batik”, yaitu mengerjakan batik tulis dengan banyak orang. Sehingga menyerap tenaga kerja lebih banyak.
Yang tidak kalah penting, status Yogyakarta sebagai daerah tujuan wisata turut berpengaruh dalam mendatangkan wisatawan. Setiap hari, penerbangan langsung menuju Yogyakarta lebih dari 40 penerbangan. Pelancong selalu menjadikan batik sebagai buah tangan.
Industri batik di Yogyakarta sudah satu tahap lebih maju dibanding wilayah lain. Bukan lagi soal memperkenalkan batik tetapi mempertahankan batik. Dibutuhkan lebih banyak inovasi untuk meningkatkan repeat buying. Konsumen datang dari berbagai macam latar belakang dan selera. Untuk mengakomodasi hal tersebut, manajemen produk sangat dibutuhkan.

Julukan Kota Batik Dunia patut disyukuri. Kini pemerintah dan masyarakat harus gotong royong menjaga ketujuh aspek itu agak terus terpenuhi. Dari sisi budaya, orisinalitas, regenerasi, dan reputasi. Kesemuanya berjalan beriringan supaya batik tetap tumbuh menjadi tradisi dan industri.

Di depan lembaran kain batik yang dipamerkan di Museum Batik Yogyakarta.

Kakak dan Jani di depan puluhan alat cap batik di Museum Batik Yogyakarta.


(Rona Mentari dan Putri Arum Sari)





Masjid di Hatyai


Bismillahirrahmannirrahim





Hatyai sepertinya punya cukup banyak komunitas muslim. Saya beberapa kali melihat masjid dengan kerumunan perempuan berjilbab dan laki-laki berkopiah disekitarnya. Walaupun, saya juga dengan mudah menemukan gerobak penjual makanan berisi kepala babi digantung-gantung di pinggir jalan. Horor juga lihat kepala babi ini. Bukan apa-apa, lihat babi aja jarang, eh ini malah lihat lima kepala babi digantung dengan mata merem. *yaiyalah masak matanya melek, lebih horor lagi* Haha. Tapi artinya, poinnya adalah, toleransi beragama masyarakat Hatyai terpelihara baik. Karena masyarakat Islam dan bukan Islam berdampingan dengan baik.



Saat itu saya dan kakak berjalan menyusuri jalanan Hatyai, hingga kami menemukan sebuah bangunan berkubah. Kami mendekat. Benar dugaan kami, itu adalah bangunan sebuah masjid yang dominan warna hijau. Mungkin itu masjid NU (loh!) *canda. Oke! Ini waktu yang tepat untuk kami sholat dan istirahat.

Masjid ini cukup besar. Tapi sangat sepi. Saat itu memang bukan waktu sholat. Kami hampir tidak menemukan seorang pun. Setelah menyapu pandangan, kami menuju sebuah pintu kecil di ujung bangunan. Itu adalah tempat sholat untuk wanita. Cukup kecil jika dibandingkan dengan luas masjid keseluruhan. Kami belum bertemu dengan jamaah lain sampai saat itu. Setelah sholat, ada dua jamaah perempuan masuk. Ia orang Thailand berjilbab, kami hanya saling melempar senyum. Bisa terulang bahasa planet kalau kami saling bicara. Seperti cerita di postingan tentang Hatyai sebelumnya.




Tentang traveling ke tempat yang minoritas muslim, menurut saya, masjid adalah sebuah patokan. Karena bisa dipastikan di sekeliling masjid terdapat banyak makanan halal. Sama juga seperti di Hatyai. Makanan halal bertebaran di sekeliling masjid. Jadi tidak usah khawatir. Dari situ kita bisa beli makan berlebih untuk disimpan di kotak makan. Seperti yang saya dan kakak lakukan. Kami membeli makanan untuk dibawa pulang. Mumpung halal. Sampai di hotel, kami akan meminjam microwave hotel untuk memanaskan makanan. Praktis.

Kembali ke masjid. Kami sempat melepas lelah dulu sebelum melanjutkan perjalanan. Duduk-duduk di bawah pohon yang ada di pelataran masjid sambil menunggu kakak saya menyelesaikan tilawahnya. Sebelum keluar masjid, foto dulu lah buat kenang-kenangan. Cekrek! 






(Rona Mentari)


Saksi Mati




Tulang kayu coklat mengkilap terhubung syaraf paku baja
Berdiri tegak bersiap untuk menantang jaman
Susunan jati tebal idaman duniawi
Tertata rapi menarik jiwa haus ilmu
Sudut ruangan berhias papan tulis adalah rumah
Akulah sang kursi ilmu

Seorang anak bertubuh kurus datang kepadaku
Dengan wajah berhias mentari pagi
Dia duduk diatasku
Tenang ringan kusangga
Aku tersenyum nyaman

Namun ketika masa bergulir memuai waktu

Keceriaan itu memudar muram
Tajamnya jarum jam menusuk pelan menyiksa relungnya
Detak terdengar keras kasar memekakkan telinga

Brak!

Aku mengerang terhimpit
Anak itu terhempas menuju ke arahku
kasar lewat dorongan keras tangan kuasa seseorang

"Hey kau bagai sudra berlipat derita
Kau tak pantas ceria!"

Perihnya mengalir dan meradang di tiap seratku
Aku pun semakin lemah dengan karungan luka

Beban derita anak itu menjelma godam besar
Memukul mukul tiap sendiku
Merontokkan satu demi satu paku keyakinanku

Kakiku patah tanganku terhempas lepas terpisah raga
Lumpuh layu aku
Getaran kata menyulut sumbu lidahku yang kelu

Hentikan godam derita anak itu biarkan dia berkawan ceria

Kelu itu terdengar hanya sayup di telingaku
Tak ada yang berubah
Sang waktu terus bergulir menggilah kisah

Satu lagi
Sebuah karakter terbunuh diatasku


(Jogja 2008)



Dongeng Untuk Cinta


Beberapa waktu yang lalu, saya sempat rutin mendongeng untuk pasien anak di sebuah rumah sakit di Jakarta. Kegiatan itu adalah bagian dari aktivitas kerelawanan dari sebuah komunitas pencinta bacaan anak. Biasanya saya dan teman-teman relawan lain akan membawa buku dongeng dan membacakannya. Atau membawa boneka jari untuk kemudian diberikan sebagai hadiah.

Jangan bayangkan kita mendongeng dengan banyak anak berkumpul. Bukan seperti itu. Kami akan menyebar dan masuk dari satu pintu ke pintu lainnya untuk menghampiri pasien anak. Anak-anak disini terlalu lemah untuk bisa beranjak dari tempat tidurnya. Biasanya, satu ruangan terdiri dari enam anak. Tidak semua anak bisa didongengi. Ada yang sedang tidur, ada yang kondisi fisiknya tidak memungkinkan untuk bisa mendengarkan dongeng, ada juga yang tidak mau, tapi yang terakhir ini jarang sekali.

Saya akan berkenalan setelah memasuki ruangan, dan meminta ijin dulu kepada orangtuanya. Hampir semua orangtua senang dan mempersilahkan kami mendongeng. Tak jarang beberapa orangtua terharu saat kami datang mendongeng, mereka kemudian akan bercerita banyak hal, giliran kami yang mendengarkan.

Dongeng biasanya disampaikan ke satu anak, atau terkadang tiga anak sekaligus, tergantung kondisi mereka. Melihat mereka tertawa dan tersenyum mendengar dongeng saya adalah hal yang sangat menyejukkan. Terkadang justru saya yang harus benar-benar menahan haru karena melihat kondisi mereka. Sering saya sengaja tersenyum lama sendiri sebelum masuk ruangan pasien anak, ceritanya membangun kekuatan diri. Ya, kita tetap harus terlihat menyenangkan dihadapan mereka.


Suatu ketika, saya mendongeng kepada satu pasien anak perempuan. Sebut saja namanya Cinta. Sekilas tak ada yang aneh dari wajahnya. Lebih tepatnya, ia tak terlihat seperti anak yang sakit. Tapi ternyata saya salah, ia mengidap sakit yang cukup parah. Binar wajah kanak-kanaknya memang terlihat menggemaskan, tapi fisiknya lemah. Hanya bisa terkulai di tempat tidur. Cinta adalah seorang anak usia 6 tahun dengan rambut sebahu. Matanya bulat, wajahnya teduh berkulit sawo matang. Saat saya minta ijin mendongeng, ia meresponnya dengan kedipan mata dan anggukan sangat pelan, mau. Ia memang terkulai lemah di tempat tidur, tapi ia memperhatikan dongeng saya dengan baik. Matanya merespon banyak. Sesekali ia memiringkan tubuhnya. Beberapa kali saya beratraksi seperti mendongeng didepan ratusan anak. Bergaya seperti hewan yang ada dalam dongeng. Ia tersenyum simpul. Saya senang sekali. Wajahnya makin menggemaskan dihiasi senyum. Beberapa kali ia tersenyum, saya jadi makin semangat mendongeng. Hingga sampailah dongeng pada akhir kisahnya. Ia masih tersenyum. Gerakannya sangat pelan saat ia tersenyum, ia benar-benar lemah. Tapi tak apa, yang penting ia tersenyum!


Saya pamitan dengan Cinta. Menciumnya. “Cepet sehat ya sayang..”. Kemudian pamit dengan ibunya. Matanya berkaca-kaca. Sang ibu mendekatkan mulutnya ke telinga saya, “terimakasih ya mbak, ini untuk pertama kalinya dia tersenyum sejak kemarin..”. Mata kami beradu. Saya ijin keluar ruang. Kali ini saya yang tak bisa menahan haru. (Rona Mentari)

(Sumber foto: Google Images)


Tersesat di Hatyai

Bismillahirrahmannirrahim..


Mungkin salah satu hal paling menakutkan sekaligus menyenangkan ketika sedang berkunjung ke sebuah daerah adalah tersesat! Namanya juga travelling, get lost menjadi hal yang biasa. National Geographic aja punya program khusus “Let’s Get Lost”. Eh program khusus atau sebutan untuk NG Adventure nya aja ya? Pokoknya ada get lost get lost nya deh. Hehe.


Jadi ceritanya, saya dan kakak sedang ada program di Malaysia. Halimah, teman saya yang rekomendasiin program itu. Nah, melihat ada peluang ke Thailand dengan kereta dari KL, kenapa kita tidak lanjutkan perjalanan kesana? Yes, saya dan kakak memutuskan untuk berangkat ke Hatyai, Thailand dari KL menggunakan kereta selama 20 jam! Eh, tapi tenang dulu, syukurlah kereta disini ada beberapa pilihan. Salah satunya 'sleepers' yang artinya ada tempat tidur. Jadi bayangkan aja sebuah hotel bergerak yang membawa kita dari satu negara ke negara lainnya dengan pemandangan alam yang bikin mata segar. Aha!


Sampailah kita ke Hatyai dan dimulailah petualangan kami. Kita sih mirip-mirip aja sama orang Thailand, tapi bahasanya itu lo. “Tak tuk tarak tuk plak”, itulah yang saya denger kalau orang Thailand sedang bicara. Hurufnya juga super duper unik. Lebih mirip sama aksara jawa. Huruf cacing kita nyebutnya. Bener-bener have no idea! 


Kecuali pas lihat foto dibawah ini, jelas kita tahu kalo ini foto tanda ada sebuah pernikahan didalam. Dua nama orang yang menikah, seperti yang sering ada di Indonesia. Hahaha.

                                               


Oke, jadi bagaimana kita tersesat di Hatyai?


Saat itu kami pergi dari hotel ke tempat-tempat unik. Seperti pasar, tempat-tempat ibadah, masjid, pusat perbelanjaan barang khas, dan kulineran menggunakan Tuk-tuk. Tuk-tuk ini adalah alat transportasi populer di thailand. Semacam Bemo kalau di Jakarta. Nah kami pun berniat untuk pulang. Kami menginap di PB Grand Hotel yang tempatnya memang bukan di pusat turis. Kami bilang ke sopirnya “PB Grand Hotel”. Bapak itu mengiyakan. Eh setelah perjalanan cukup panjang, kami diantar ke Grand Hotel, bukan PB Grand. Wrong way. Saya bilang kalau bukan ini hotel yang saya maksud. “PB Grand Hotel”, kata saya menggunakan cara berlatih vokal teater selama ini. Biar jelas. Ia mengiyakan. Kami diantar lagi. Jalan cukup panjang dan kami belum sampai juga.

Disinilah salah satu kekurangan Tuk-tuk, tidak bisa berkomunikasi dengan baik dengan sopirnya. Karena sopir di depan dan kita dibelakang terhalang sama besi penutup. Jadi kami nggak bisa leluasa memberi tahu kalau sepertinya ini bukan jalan yang tepat. Atau setidaknya tanya, apa mereka tahu PB Grand Hotel karena kami juga ngga tahu jalan.

Hingga akhirnya mampirlah Tuk-tuk ini ke pom bensin. Tinggal kami berdua penumpang yang tersisa. Dan hari sudah mulai gelap. Kesempatan ini kami gunakan untuk menanyakan ke Pak Sopir. Benar saja, ternyata Pak Sopir memang tidak tahu dimana hotel kami berada. Selain mengisi bensin, ia berusaha bertanya kepada petugas pom bensin dimana letak PB Grand Hotel. Saya dan Kakak turun untuk ikut menjelaskan setahu kami. Yang kami tahu adalah sebatas, PB Grand Hotel ini warnanya merah, berada di pinggir jalan raya besar seperti by pass. Jalannya bernama RadUthid.

Saya udah bilang RatUthid Road ini berkali-kali tapi Bapaknya juga belum ngerti. Atau mungkin saya yang salah mengucapkan? Bisa jadi. Makanya saya coba tuliskan pakai huruf latin. Percakapan kami di pom bensin cukup lama. Antara saya dan kakak, sopir Tuk-tuk, petugas pom bensin, dan seorang lainnya yang berusaha membantu. Lucu sekali kalau ingat saat itu. Kami semua berusaha bicara satu sama lain tapi menggunakan bahasa yang berbeda. Bahasa tubuh udah nggak mempan lagi kali ini. Malah kami sempet ngobrol tentang dari mana asal kami dan seterusnya. Saya capek juga. Karena mau pakai Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Bahasa Jawa pun mereka ngga paham. Begitupun saya ngga paham dengan bahasa mereka. Bahkan saya sempat iseng pakai bahasa planet saat udah mulai lelah. Kakak saya cekikikan aja. Bahasa Planet maksudnya bahasa asal, asal “taraktungplangbengdur” gitu. Toh mereka juga sama-sama ngga paham. Hahaha.

Hingga akhirnya, Pak Sopir memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Sepertinya ia sudah mendapat ilham dari obrolan unik bin kocak tadi. Pak Sopir mengemudikan Tuk-tuk dengan perlahan. Sekitar 15 menit berjalan, kami melihat sebuah bangunan dengan warna dominan merah melambai-lambai ke arah kami. Benar! Itu PB Grand Hotel! Kita berteriak heboh ke Pak Sopir. Kami turun dan berterimakasih kepada Pak Sopir, kami memberinya uang melebihi perjanjian awal. Jelas saja kami beri lebih karena sudah terlalu banyak menghabiskan bensin Tuk-tuk. Ia sempat menolak, tapi kemudian kami paksa untuk menerima. Alhamdulillah kami sampai.

Oh iya, orang-orang Hatyai baik-baik. Pak Sopir barusan juga sangat baik, tetep sabar nganterin kita yang kehilangan arah dan ia tidak meminta uang lebih. Mungkin jalur yang dilalui memang bukan jalur Tuk-tuk nya karena di awal gagal paham soal nama hotel.  Bahkan mungkin itu sudah diluar jam kerjanya mengendarai Tuk-tuk.

Sampai hotel kami sudah lelah. Ketawa-ketiwi sendiri kalau ingat kejadian barusan. Yaiyalah mereka ngga paham dengan tulisan Jalan RadUthid yang tadi kita tulis. Mereka kan pakai huruf cacing, dan yang kita tuliskan adalah huruf latin.

Dan, tebak apa yang saya temukan saat merapikan barang bawaan?

Kartu nama hotel lengkap dengan alamat berhuruf cacing! Jeder. Dari tadi saya bawa kartu nama itu, tapi ngga kepikiran untuk memberikan langsung ke Pak Sopir!

Sampai jumpa lagi.

Perjalanan Commuterline dan 70 Tahun Indonesia Merdeka

Siang ini setelah mengikuti upacara kemerdekaan istana negara didepan layar kaca. Saya menaiki commuterline yang khusus hari itu gratis karena memperingati hari kemerdekaan. Sengaja saya berdiri di pinggir pintu kaca. Agar bisa leluasa memandang keluar. 

Atribut merah putih tak bisa terhindarkan dari pandangan mata. Dari bendera kain yg berkibar di depan rumah. Sampai kantong plastik kresek berwarna merah dan putih yang sengaja digembungkan dan dipasang bergantian menghiasi sebuah halte bis tua. 

Dan ini sejumput potret peringatan kemerdekaan melalui perjalanan singkat commuterline yang berhasil saya rekam dalam ingatan.


Saya melihat lapangan kecil di pemukiman, ramai oleh kanak-kanak berlomba. Lalu tiang lomba panjat pinang yg tegak berdiri siap disoraki. Lalu siswa siswi berjalan bersama pulang sekolah. Lalu remaja-remaja berseragam sekolah yang tiduran di warung kopi melepas lelah, agaknya kelelahan mengikuti upacara tadi. Lalu sepasang remaja putih abu abu, menyepi duduk dibawah pohon sambil senyum-senyum sendiri. Lalu sampah yang beterbangan dibuang dari ember ke pinggir rel kereta oleh seorang pemuda. Lalu tumpukan sampah seluas lapangan tenis. Lalu telpon seluler yang tidak berhenti berbunyi. Lalu sebuah keluarga kecil bepergian. Lalu ratusan batu nisan di sebuah komplek pemakaman dengan segelintir peziarah. Lalu sebuah celetukan bahwa hari ini ada banyak diskon di berbagai pusat perbelanjaan. 


Selamat memperingati 70 tahun Indonesia merdeka. Negara yang lahir atas juang luar biasa pendahulunya. Negara yang lahir dengan semangat mempersatu nusa dan bangsa tanpa menyamakan keberagaman didalamnya. Negara yang lahir dari pemimpin yg tetap berdiri tegak walau peluru bersarang di tubuhnya. Negara yang lahir dari mereka yang tak pernah menyia-nyiakan detik demi detik waktu yang Allah berikan padanya. Negara yang lahir atas kesantunan orang-orangnya pada sesama manusia, bumi, dan seluruh isinya. 

Merdeka!

(Sumber foto: Google images)

Total Pageviews

About this blog

This blog is tried to irradiate the readers from writer’s experience, opinion, activity, creation, and another story of Rona Mentari.

Silaturahim

Pada suatu hari

Pada suatu hari

juru dongeng

juru dongeng

Blog Archive

About Me

My photo
Yogyakarta, Sleman, Indonesia
Like my name, Rona Mentari, that means the georgeous color of sunlight. My parents hope that I can enlight people around me. Mom and dad’s prayer :’) Tukang dongeng yang mencintai dunia seni, terutama seni pertunjukan. Penulis serial Dongeng Trimbil. Dan penjaga tetap Rumah Dongeng Mentari di Jogja (www.rumahdongengmentari.blogspot.com) Suka sekali berada di sekeliling anak-anak, bukan apa-apa, mereka nantinya yang akan menyalakan sinar untuk dunia. Menjadi bagian dari khalifah Allah di muka bumi. Fotografi, music-guitar instrument, movie making, travelling, adalah beberapa kegiatan yang saya senangi. Hari ini seperti pelangi di pagi hari, banyak warna, tapi saat kamu melihatnya secara penuh, itu indah. Today, is like a rainbow in the morning, lots of color, but if you see it fully, it looks beautiful.
Powered by Blogger.
There was an error in this gadget

Followers