Rona Mentari

tell a story, reap a wisdom

Iman Itu


Iman itu di charge
Tidak dibiarkan seperti air, mengalir
Yang bisa nyangkut dimana saja
Semau gerak airnya


Iman itu dicari
Tidak ditunggu seperti bintang jatuh
Yang tak jelas kapan datangnya
Hanya sekali seumur-umur


Iman itu ada dimana-mana
Di tiap-tiap detik dunia
Jika kita bisa ambil hikmahnya
Teman, keluarga, majelis, diri, kitab, jalan
Semuanya

Siapkah menerima sang iman?
 


(07.02 am/2012)

Mereka Memang Luar Biasa


Bismillahhirrahmannirrahim,

Sahabat, ini adalah kisah pengalaman saya saat pertama kali diminta mendongeng didepan anak-anak siswa SLB. Sebuah pengalaman yang mengkayakan. :) 


Kendaraan kami memasuki pagar dan gerbang ber cat biru terang. Sekilas ada papan putih bertuliskan SLB, Sekolah Luar Biasa. Bersama kakak, hari ini, di bulan syawal, adalah jadwalku untuk menjadi juru dongeng. Tapi berbeda dari yang lain, untuk pertama kalinya, aku akan mendongeng didepan anak-anak murid SLB. Menarik sekaligus menegangkan. Ini adalah pengalaman pertama. Aku benar-benar penasaran berada di tengah-tengah mereka. Tapi aku juga takut tak bisa berkomunikasi dengan mereka. Tapi, Ms Neti, mantan guru SMA ku sekaligus yang menjadi perantara untuk mengundangku mengatakan, anak-anak disana sangat komunikatif dan senang kalau aku bisa hadir.

Setelah memasuki ruangan aula besar, aku melihat anak-anak luar biasa ini. Ternyata mereka sudah menunggu. Sesekali beberapa anak melambaikan tangannya padaku. Jumlah mereka tidak sedikit, dengan seragam sekolah yang berbeda-beda. Dari yang berseragam SD, SMP, sampai SMA. Aku mengamati mereka, unik. Tapi jujur, aku masih takut, bisakah aku mendongeng di depan mereka? Gitar disiapkan oleh kakakku. Setelah bersalaman dengan guru-guru, pembawa acara mempersilahkan aku kedepan.

Pikiranku melayang, mengingat apa yang aku niatkan untuk acara ini. Aku berniat untuk bersenang-senang dengan mereka, mengajak mereka berbicara, menghibur mereka, itu saja. Aku tidak akan menjadikannya beban. Karena yang dibutuhkan adalah komunikasi, senyum, dan kebahagiaan dari hati. Aku memulainya dengan bahagia, biarlah Allah yang menentukan hasilnya.

Bismillahirrahmannirrahim... Untuk mengkondisikan suasana, aku memulai dengan menyanyikan lagu Insan Utama, Hadad Alwi diiringi gitar. Mereka mulai merespon, ada yang bertepuk tangan. Ada yang memandang serius. Ada juga yang mencoba untuk menyanyi walaupun aku tahu dia tak hafal. Respon awal ini mengagetkanku. Salam pembuka ku dijawab dengan serempak. “Ulang salamnya, masih ada yang belum jawab, nanti yang jawab salam Rona doakan dapet nilai ujian yang bagus..”. Mereka menjawab mantap “Aminnn..”. Masyaallah, bahkan ini diluar dari bayanganku.

Aku menyapa mereka. Mereka pun membalas dengan wajah yang berbinar. Ya, keterbatasan mereka tak mampu menyembunyikan binar-binar itu. Dongeng kambing bernama Dompu dan Bul bul menjadi pilihanku. Aku pun bertanya, pertanyaan yang awalnya aku ragu mereka bisa menjawab. “Apa pelajaran yang bisa teman-teman ambil dari dongeng tadi?”, tanyaku bersemangat. “Harus mau mengalah!”, “Kambing!”, “Harus jujur!”, “tidak boleh berkelahi”, dst. Ternyata dugaan awalku salah, maafkan aku ya teman. Aku tak menyangka. Lagi-lagi mereka membuatku bangga. Mereka menjawab dengan jujur, walaupun ada beberapa yang tak tepat, tapi aku tak bisa menyalahkan mereka. Karena cara berpikirku dan mereka juga berbeda. Dan keberanian mereka untuk mengungkapkan pendapat saja sudah lebih dari cukup untukku. Sesekali aku mendekat, berdialog dengan mereka. Juga dengan Trimbil yang aku bawa hari itu.

Lagu Jangan Menyerah menutup perjumpaanku hari itu. Mereka ikut menyanyi, binar-binar mereka memenuhi ruangan aula. “Allah pasti kan menunjukkan... kebesaran dan kuasanya... bagi hambaNya yang sabar dan tak kenal putus asa...” ada sesuatu mengalir di rongga dadaku. Hampir saja air mataku tumpah. Tapi lebih dari itu semua, semoga pesan semangat itu sampai.

Antusiasme, sikap menghargai, keberanian, percaya diri, tawa, dan senyum mereka hari itu, mengajariku banyak hal. Saat kami teman-teman muslim berdoa pun, teman luar biasa yang beragama nasrani menyesuaikan, tak kalah khusyuknya. Aku bersyukur, lewat Ms Neti, Allah mempertemukanku dengan orang-orang luar biasa ini. Aku miris, dengan kisah-kisah dibalik kehidupan mereka yang getir, tak jarang dibuang, dikucilkan, atau disembunyikan oleh keluarga mereka sendiri. Subhanallah.

Aku yakin, Allah menciptakan sesuatu dengan maksud. Kita manusia diminta “IQRA”, membaca segala tanda-tanda yang Allah ciptakan. Dan hari ini, Allah bermaksud mengajariku tentang rasa syukur, sikap menghargai, istiqomah, keikhlasan, dan kehidupan melalui insan-insan luar biasa dengan segala ‘kelebihan’ mereka. Subhanallah walhamdulillah walaaillahailallahu allahuakbar...


Uniknya Pasar Gede Sumbawa

Bismillah,

Sahabat, sekitar bulan Januari 2012 lalu, saya bersama tim Arrahman Quranic Learning Center mengadakan perjalanan dakwah safari tadabbur dan waqaf Quran di Bali-Lombok-Sumbawa. Sebagai seorang yg hobi travelling dan berobsesi keliling nusantara, tentu perjalanan ini begitu bermakna. Bukan hanya menikmati indahnya ciptaan Allah berupa panorama disana, tetapi juga sebuah amanah yang diemban tim Arrahman tentang sebuah misi dakwah penyebaran Quran. Hari pertama di Sumbawa, kami menyempatkan diri ke pasar tradisional setempat. Berikut kisahnya :)

Udara pagi tersenyum, menyapa kami di pagi pertama Sumbawa. Brangbiji, adalah daerah dimana kami singgah untuk beberapa hari kedepan. Pagi ini kami berencana untuk sarapan dan menikmati pagi di pasar terdekat. Alhamdulillah, angkot biru yang disopiri penduduk asli bersedia mengantarkan kami ke Pasar Gede Sumbawa, pasar induk disana. Keramaian khas pasar tradisional sudah terlihat didepan. Sepertinya, itu Pasar Gede yang kami maksud. Ternyata benar, Pak Sopir memberhentikan mobilnya, dan kami pun turun, bersiap menelusuri pasar ini.

Awalnya, saya terpukau dengan beragamnya hasil laut yang dijual disana. Terlihat masih segar. Bahkan salah satu yng dijual adalah ikan kerapu macan, salah satu ikan yang terancam punah. Kak Shindi iseng bertanya harga ikan tersebut. “Tiga puluh ribu rupiah,” kata ibu penjual menyatakan harga ikan tersebut.

Seperti kebanyakan pasar tradisional, tawar menawar menjadi hal yang wajar. Logat khas daerah pun terdengar dalam tiap transaksi. Dan makanan khas memang sengaja dicari untuk kami sarapan pagi ini. Penjual disana ramah-ramah, masyaallah, walaupun kami berada nun jauh dari rumah, tapi keramahan warga disana membuat kami merasa ada di rumah sendiri.

Kami tertarik dengan Ibu-ibu yang menjual hidangan ketan kuning yang diberi suwiran daging sapi berbumbu. Hanya 2000 rupiah. Unik dan enak. Ini hidangan yang khas di Sumbawa. Kalau biasanya kita sarapan dengan nasi kuning, kali ini ketan kuning. Rasanya jangan ditanya, nikmat! Apalagi ditemani teh hangat yang dijual oleh warung disebelahnya. Ibu penjual ini juga asli Sumbawa, ia seorang Ibu berumur 50 tahunan yang masih segar bugar. Bu Haji, begitu ia akrab dipanggil. Sepertinya ibu ini sudah haji, alhamdulillah. Maha besar Allah, dengan hasil berjualan makanan di pasar dengan lapak yang tidak besar, ternyata Ibu tersebut bisa mengumpulkan pundi-pundi untuk berhaji. Ya, ia telah menjadi tamu Allah.


















Kembali di Pasar Gede, kami juga menemukan makanan-makanan yang unik. Lebih tepatnya baru kita temui. Yaitu pisang mas berwarna merah. Bentuknya sama, tapi warnanya yang berbeda. Kemerah-merahan. Rasanya? Sama seperti pisang pada umumnya. Kami juga menemukan jagung manis yang sudah dikukus sampai mengeluarkan semacam cairan lengket mirip lendir. Eh tapi jangan jijik dulu, ini enak dimakan, dan halal.

Setelah berkeliling dan sesekali ngobrol dengan para pedagang, kami meninggalkan pasar dengan dokar mini yang kami sewa. Tak tik tok tak tik tok suara tapal kuda memulai langkahnya.

Allah berfiman dalam Surat Al Hujurat ayat 13 “Sesungguhnya Allah menciptakan manusia dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Dan Allah menciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa supaya kalian saling mengenal”

Total Pageviews

Tentang Saya

My photo
Yogyakarta, Sleman, Indonesia
Seperti mentari yang merona-rona. Mungkin itu alasan sekaligus harapan orang tua saya memberi nama Rona Mentari. Saya adalah juru dongeng. Beraktivitas di dunia ini sejak tahun 2000. Dongeng menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan saya. Salam kenal! Mari bersilaturahim juga via instagram di @mentarirona

Tentang Blog Ini

Blog ini adalah catatan tulisan berdasarkan pengalaman, cerita, karya, dan berbagai cerita penulis - Rona Mentari. Kadang juga berisi celotehan kekesalan berbentuk puisi atau sekedar kegundahan tentang sekitar.

Popular Posts

Powered by Blogger.
There was an error in this gadget

Followers