Rona Mentari

tell a story, reap a wisdom

Mereka Memang Luar Biasa


Bismillahhirrahmannirrahim,

Sahabat, ini adalah kisah pengalaman saya saat pertama kali diminta mendongeng didepan anak-anak siswa SLB. Sebuah pengalaman yang mengkayakan. :) 


Kendaraan kami memasuki pagar dan gerbang ber cat biru terang. Sekilas ada papan putih bertuliskan SLB, Sekolah Luar Biasa. Bersama kakak, hari ini, di bulan syawal, adalah jadwalku untuk menjadi juru dongeng. Tapi berbeda dari yang lain, untuk pertama kalinya, aku akan mendongeng didepan anak-anak murid SLB. Menarik sekaligus menegangkan. Ini adalah pengalaman pertama. Aku benar-benar penasaran berada di tengah-tengah mereka. Tapi aku juga takut tak bisa berkomunikasi dengan mereka. Tapi, Ms Neti, mantan guru SMA ku sekaligus yang menjadi perantara untuk mengundangku mengatakan, anak-anak disana sangat komunikatif dan senang kalau aku bisa hadir.

Setelah memasuki ruangan aula besar, aku melihat anak-anak luar biasa ini. Ternyata mereka sudah menunggu. Sesekali beberapa anak melambaikan tangannya padaku. Jumlah mereka tidak sedikit, dengan seragam sekolah yang berbeda-beda. Dari yang berseragam SD, SMP, sampai SMA. Aku mengamati mereka, unik. Tapi jujur, aku masih takut, bisakah aku mendongeng di depan mereka? Gitar disiapkan oleh kakakku. Setelah bersalaman dengan guru-guru, pembawa acara mempersilahkan aku kedepan.

Pikiranku melayang, mengingat apa yang aku niatkan untuk acara ini. Aku berniat untuk bersenang-senang dengan mereka, mengajak mereka berbicara, menghibur mereka, itu saja. Aku tidak akan menjadikannya beban. Karena yang dibutuhkan adalah komunikasi, senyum, dan kebahagiaan dari hati. Aku memulainya dengan bahagia, biarlah Allah yang menentukan hasilnya.

Bismillahirrahmannirrahim... Untuk mengkondisikan suasana, aku memulai dengan menyanyikan lagu Insan Utama, Hadad Alwi diiringi gitar. Mereka mulai merespon, ada yang bertepuk tangan. Ada yang memandang serius. Ada juga yang mencoba untuk menyanyi walaupun aku tahu dia tak hafal. Respon awal ini mengagetkanku. Salam pembuka ku dijawab dengan serempak. “Ulang salamnya, masih ada yang belum jawab, nanti yang jawab salam Rona doakan dapet nilai ujian yang bagus..”. Mereka menjawab mantap “Aminnn..”. Masyaallah, bahkan ini diluar dari bayanganku.

Aku menyapa mereka. Mereka pun membalas dengan wajah yang berbinar. Ya, keterbatasan mereka tak mampu menyembunyikan binar-binar itu. Dongeng kambing bernama Dompu dan Bul bul menjadi pilihanku. Aku pun bertanya, pertanyaan yang awalnya aku ragu mereka bisa menjawab. “Apa pelajaran yang bisa teman-teman ambil dari dongeng tadi?”, tanyaku bersemangat. “Harus mau mengalah!”, “Kambing!”, “Harus jujur!”, “tidak boleh berkelahi”, dst. Ternyata dugaan awalku salah, maafkan aku ya teman. Aku tak menyangka. Lagi-lagi mereka membuatku bangga. Mereka menjawab dengan jujur, walaupun ada beberapa yang tak tepat, tapi aku tak bisa menyalahkan mereka. Karena cara berpikirku dan mereka juga berbeda. Dan keberanian mereka untuk mengungkapkan pendapat saja sudah lebih dari cukup untukku. Sesekali aku mendekat, berdialog dengan mereka. Juga dengan Trimbil yang aku bawa hari itu.

Lagu Jangan Menyerah menutup perjumpaanku hari itu. Mereka ikut menyanyi, binar-binar mereka memenuhi ruangan aula. “Allah pasti kan menunjukkan... kebesaran dan kuasanya... bagi hambaNya yang sabar dan tak kenal putus asa...” ada sesuatu mengalir di rongga dadaku. Hampir saja air mataku tumpah. Tapi lebih dari itu semua, semoga pesan semangat itu sampai.

Antusiasme, sikap menghargai, keberanian, percaya diri, tawa, dan senyum mereka hari itu, mengajariku banyak hal. Saat kami teman-teman muslim berdoa pun, teman luar biasa yang beragama nasrani menyesuaikan, tak kalah khusyuknya. Aku bersyukur, lewat Ms Neti, Allah mempertemukanku dengan orang-orang luar biasa ini. Aku miris, dengan kisah-kisah dibalik kehidupan mereka yang getir, tak jarang dibuang, dikucilkan, atau disembunyikan oleh keluarga mereka sendiri. Subhanallah.

Aku yakin, Allah menciptakan sesuatu dengan maksud. Kita manusia diminta “IQRA”, membaca segala tanda-tanda yang Allah ciptakan. Dan hari ini, Allah bermaksud mengajariku tentang rasa syukur, sikap menghargai, istiqomah, keikhlasan, dan kehidupan melalui insan-insan luar biasa dengan segala ‘kelebihan’ mereka. Subhanallah walhamdulillah walaaillahailallahu allahuakbar...


1 komentar:

syiko November 15, 2012 at 9:43 PM  

SUBHANAALLAH.. LUAR BIASA,, lanjutkan perjuangannya!!!!!

Total Pageviews

Tentang Saya

My photo
Yogyakarta, Sleman, Indonesia
Seperti mentari yang merona-rona. Mungkin itu alasan sekaligus harapan orang tua saya memberi nama Rona Mentari. Saya adalah juru dongeng. Beraktivitas di dunia ini sejak tahun 2000. Dongeng menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan saya. Salam kenal! Mari bersilaturahim juga via instagram di @mentarirona

Tentang Blog Ini

Blog ini adalah catatan tulisan berdasarkan pengalaman, cerita, karya, dan berbagai cerita penulis - Rona Mentari. Kadang juga berisi celotehan kekesalan berbentuk puisi atau sekedar kegundahan tentang sekitar.

Popular Posts

Powered by Blogger.
There was an error in this gadget

Followers