Rona Mentari

tell a story, reap a wisdom

Kunang-kunang

Kenapa Kunang-kunang selalu jadi makhluk magis bagi para penulis, perindu kasih, dan perangkai makna?
.....
Bunda Tatty Elmir mengenalkan Kunang-kunang kepadaku. Sebagai pahlawan di jalan sunyi. Penerang di gelapnya sekitar. Yang tak terbuai sorot lensa. Yang tak redup oleh pandangan hati. Ya, Kunang-kunang mencahayai sekitar, dimanapun berada.

Clara Ng mendongengkannya padaku. Ia bilang. Kau tahu kenapa dia dipanggil Kunang-kunang? Aku menggeleng. Karena ia terlalu spesial untuk hanya disebut sekali saja, Kunang. Jadi diulang dua kali untuk menunjukkan betapa hebatnya dia, Kunang-kunang.



Tere Liye berujar. Kalian lihat Kunang-kunang itu. Aku mendongak melihat kumpulan Kunang-kunang yang terbang disekitarku. Terbang dengan cahaya di ekornya. Kecil tapi indah. Begitulah kehidupan. Kecil tapi indah. Seekor Kunang-kunang hanya bisa menyalakan ekornya semalaman, esok-pagi, saat matahari datang menerpa hutan kecil ini, lampu Kunang-kunang itu akan padam selamanya. Mati. Pergi. Tapi ia tak pernah mengeluh atas takdir yang sesingkat itu. Lalu aku bertanya pada diri sendiri, kapan terakhir kali aku mengeluh? Ah, mereka bahkan tidak pernah menangis atas nasib sependek itu. Malam ini, meski mereka tahu besok akan pergi, mereka tetap riang terbang menghiasi hutan. Menyalakan lampu. Memberi terang sekitarnya.




Bunga Temanku


Tepat dua hari lalu

Saat canda dan sapa selalu ada diujung meja kayu. 
Pojok kantin kampusku.
Hangat memeluk kami yang jelas jelas tak padu.
Namun harmoni dalam nyanyian merdu.

Sampai sosokmu samar beradu.
Diantara silauan matahari di langit biru.
Sang bunga yg menghiasi halaman rumahku.

Tapi bukan bunga yang terakhir kutemui dulu.

Hati menderu.
Kemana mahkotamu?
Kemana kilauan madumu? 

Aku tahu kau tentu juga menderu.
Kau mungkin tau apa isi deruan hatiku.
Kita hanya tertawa saat itu.
Aku berusaha tak kelu.
Padahal ada gemuruh yang amat pilu.
Aku berusaha tak kaku.
Padahal mendadak tubuhku menjadi bongkahan es batu.
Aku mencoba biasa saja dan bertanya kabar madumu.
Kau jawab dan akupun menanggapi dgn lagu.
Padahal fikirku bertanya penuh liku.
Hingga ketika berpisah saat itu.
Ada yang tumpah dari dada kiri dan meleleh di indera penglihatanku.

Dimana mahkotamu?
Dimana kilauan madu?

Aku patah hati oleh rindu.
Atas dirimu yang baru.

Memang aku ini siapa, katamu.
Iya, aku hanya pengagum kilauan madumu.
Kau ada di halaman rumahku.
Walau kita jarang bertemu.
Aku tahu benar, dirimu yg merdu.

Wahai bunga di halaman rumahku.

Kamu masih bunga tentu.
Aku tahu itu.
Masih indah warnamu.
Aku tahu itu.
Masih segar wangimu.
Aku tahu itu.

Tapi aku juga tak sabar melihat dirimu yang baru.
Dengan mahkota dan madu yang baru.
Dengan jiwamu.
Yang baru.

Mentari, 03.55am

Total Pageviews

Tentang Saya

My photo
Yogyakarta, Sleman, Indonesia
Seperti mentari yang merona-rona. Mungkin itu alasan sekaligus harapan orang tua saya memberi nama Rona Mentari. Saya adalah juru dongeng. Beraktivitas di dunia ini sejak tahun 2000. Dongeng menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan saya. Salam kenal! Mari bersilaturahim juga via instagram di @mentarirona

Tentang Blog Ini

Blog ini adalah catatan tulisan berdasarkan pengalaman, cerita, karya, dan berbagai cerita penulis - Rona Mentari. Kadang juga berisi celotehan kekesalan berbentuk puisi atau sekedar kegundahan tentang sekitar.

Popular Posts

Powered by Blogger.
There was an error in this gadget

Followers