Rona Mentari

tell a story, reap a wisdom

Ula-ula Menjadi Kupu-kupu


Bismillahhirrahmannirrahim

Pada suatu hari, hiduplah seekor ulat kecil. Tubuhnya berwarna hijau tidak berbulu. Kalau disentuh, kulitnya lentur, sangat menggelikan. Tapi sayangnya, hanya sedikit yang mau menyentuh ulat kecil itu. Namanya Ula-ula. Ia tinggal diatas pohon mangga halaman rumah Dena, gadis kecil yang suka bermain.

Suatu hari, Dena dan bonekanya bermain di teras rumah. Ia ditemani Bunda yang sekaligus menyuapi Dena makan. Tiba-tiba Dena berteriak kencang saat melihat Ula-ula diatas pohon mangga. Dena menangis karena takut melihat Ula-ula. Dena segera memeluk Bunda yang ada didekatnya. Mereka lalu masuk ke dalam rumah.

“Kenapa orang-orang tidak suka padaku ya?”, kata Ula-ula sedih.

Beberapa saat kemudian seekor sapi milik Pak Tani berjalan menuju sawah, melewati pohon mangga, rumah Ula-ula. Komo Si Sapi itu berkata pada Ula-ula.

“Jangan dekat-dekat denganku ya Ula-ula. Tubuhmu menggelikan. Aku takut gatal-gatal!”

Ula-ula hanya diam, ia sedih, semakin banyak yang tidak mau dekat-dekat dengannya. Kemudian Ula-ula pun berdoa.

“Ya Allah, aku tak tahu kenapa mereka takut padaku. Padahal aku ingin punya banyak teman. Tolong aku Ya Allah. Engkaulah Yang Maha menolong. Dan Engkaulah tempatku mengadu”

Ula-ula berdoa kepada Allah agar ia disukai dan disenangi. Kemudian tiba-tiba tubuhnya sedikit demi sedikit dipenuhi serat-serat. Serat halus itu kemudian mengelilingi tubuh Ula-ula. Menutup tubuh Ula-ula secara melingkar. Semakin lama tubuh Ula-ula semakin tertutupi hingga tinggal wajahnya saja. Lucu sekali, seperti bayi yang sedang dibedong. Atau bayi yang memakai jilbab. Hahaha.

Lama kelamaan tubuhnya tertutup semua, termasuk wajahnya. Oh, ternyata Ula-ula menjadi kepompong! Apa yang dilakukan Ula-ula? Ternyata Ula-ula sedang puasa. Ia tidak makan dan tidak minum. Menahan nafsu dan amarah. Tidak pergi bermain, tidak jalan-jalan ke Mall. Pokoknya Ula-ula berpuasa saat menjadi kepompong. Tiga puluh hari kemudian, serat yang membungkus Ula-ula terbuka sedikit demi sedikit. Muncul sebuah sayap yang terlihat masih basah dan lengket. Kemudian muncul seekor kupu-kupu nan cantik jelita. Ia mengepak-kepakkan sayapnya dan terbang kesana kemari. Ula-ula telah menjadi seekor kupu-kupu yang cantik! Sapi yang sedang lewat pun menyapa.



“Siapa kamu? Bolehkah aku berkenalan denganmu?” “Aku Ula-ula pi, temanmu!”

“Wah kamu sangat indah” “Iya, aku berpuasa saat menjadi kepompong”

Sapi tersenyum melihat Ula-ula. Kemudian Dena, gadis kecil yang dulu takut sekali dengan Ula-ula tiba-tiba berlarian kearah Ula-ula sambil tertawa. Dena senang sekali melihat Ula-ula. 

“Alhamdulillah puasa membuat diriku dan hatiku tambah cantik!”, kata Ula-ula bersyukur.

1 komentar:

Adityar July 22, 2013 at 8:15 AM  

Hihi. Dongengnya cocok banget sama anak-anak di bulan puasa :)
Blognya keren. Saya izin follow ya, Kak Rona.

Total Pageviews

Tentang Saya

My photo
Yogyakarta, Sleman, Indonesia
Seperti mentari yang merona-rona. Mungkin itu alasan sekaligus harapan orang tua saya memberi nama Rona Mentari. Saya adalah juru dongeng keliling. Storytelling Activist. Dongeng menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan saya. Salam kenal! Mari bersilaturahim juga via instagram di @mentarirona

Tentang Blog Ini

Blog ini adalah catatan tulisan berdasarkan pengalaman, cerita, karya, dan berbagai cerita penulis - Rona Mentari. Kadang juga berisi celotehan kekesalan berbentuk puisi atau sekedar kegundahan tentang sekitar.

Popular Posts

Blog Archive

Powered by Blogger.

Followers