Rona Mentari

tell a story, reap a wisdom

Masjid di Hatyai


Bismillahirrahmannirrahim





Hatyai sepertinya punya cukup banyak komunitas muslim. Saya beberapa kali melihat masjid dengan kerumunan perempuan berjilbab dan laki-laki berkopiah disekitarnya. Walaupun, saya juga dengan mudah menemukan gerobak penjual makanan berisi kepala babi digantung-gantung di pinggir jalan. Horor juga lihat kepala babi ini. Bukan apa-apa, lihat babi aja jarang, eh ini malah lihat lima kepala babi digantung dengan mata merem. *yaiyalah masak matanya melek, lebih horor lagi* Haha. Tapi artinya, poinnya adalah, toleransi beragama masyarakat Hatyai terpelihara baik. Karena masyarakat Islam dan bukan Islam berdampingan dengan baik.



Saat itu saya dan kakak berjalan menyusuri jalanan Hatyai, hingga kami menemukan sebuah bangunan berkubah. Kami mendekat. Benar dugaan kami, itu adalah bangunan sebuah masjid yang dominan warna hijau. Mungkin itu masjid NU (loh!) *canda. Oke! Ini waktu yang tepat untuk kami sholat dan istirahat.

Masjid ini cukup besar. Tapi sangat sepi. Saat itu memang bukan waktu sholat. Kami hampir tidak menemukan seorang pun. Setelah menyapu pandangan, kami menuju sebuah pintu kecil di ujung bangunan. Itu adalah tempat sholat untuk wanita. Cukup kecil jika dibandingkan dengan luas masjid keseluruhan. Kami belum bertemu dengan jamaah lain sampai saat itu. Setelah sholat, ada dua jamaah perempuan masuk. Ia orang Thailand berjilbab, kami hanya saling melempar senyum. Bisa terulang bahasa planet kalau kami saling bicara. Seperti cerita di postingan tentang Hatyai sebelumnya.




Tentang traveling ke tempat yang minoritas muslim, menurut saya, masjid adalah sebuah patokan. Karena bisa dipastikan di sekeliling masjid terdapat banyak makanan halal. Sama juga seperti di Hatyai. Makanan halal bertebaran di sekeliling masjid. Jadi tidak usah khawatir. Dari situ kita bisa beli makan berlebih untuk disimpan di kotak makan. Seperti yang saya dan kakak lakukan. Kami membeli makanan untuk dibawa pulang. Mumpung halal. Sampai di hotel, kami akan meminjam microwave hotel untuk memanaskan makanan. Praktis.

Kembali ke masjid. Kami sempat melepas lelah dulu sebelum melanjutkan perjalanan. Duduk-duduk di bawah pohon yang ada di pelataran masjid sambil menunggu kakak saya menyelesaikan tilawahnya. Sebelum keluar masjid, foto dulu lah buat kenang-kenangan. Cekrek! 






(Rona Mentari)


1 komentar:

Alma Wahdie September 30, 2016 at 8:43 AM  

Waah, backpackeran mbak? Pengeeen

Total Pageviews

Tentang Saya

My photo
Yogyakarta, Sleman, Indonesia
Seperti mentari yang merona-rona. Mungkin itu alasan sekaligus harapan orang tua saya memberi nama Rona Mentari. Saya adalah juru dongeng. Beraktivitas di dunia ini sejak tahun 2000. Dongeng menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan saya. Salam kenal! Mari bersilaturahim juga via instagram di @mentarirona

Tentang Blog Ini

Blog ini adalah catatan tulisan berdasarkan pengalaman, cerita, karya, dan berbagai cerita penulis - Rona Mentari. Kadang juga berisi celotehan kekesalan berbentuk puisi atau sekedar kegundahan tentang sekitar.

Popular Posts

Powered by Blogger.
There was an error in this gadget

Followers